Wednesday, 18 January 2017

Kami Bersaudara


Gambar : Jitu.or.id

"Dia anak sepupunya adik ipar istrinya sepupu nenek?"

Setelah assembly mingguan yang sudah menjadi rutinitas selasa pagi bagi kami para murid, tidak seperti biasanya, Ms. Collins memanggil aku untuk datang ke ruangannya. Aku pun mulai mengingat apa yang aku lakukan selama seminggu lalu. Sepertinya tidak ada yang salah.

Sesampainya aku diruangan wali kelas 8A itu, beliau langsung menjelaskan alasannya kepadaku, tanpa basa-basi. 

"There is another Indonesian transferred student, her name is Nanda. I want you to be her buddy."

Sudah menjadi sebuah tradisi sekolah ini untuk seorang murid baru mempunyai seorang buddy, dimana buddy nya akan membimbing dan membantu murid baru tersebut sampai murid baru ini familiar dengan sekolah kami. Apalagi untuk seorang murid baru dari negara yang tidak berbahasa inggris. Istilah lainnya, aku bakal jadi guide merangkap translator nya dia.

"Mimpi apa aku semalam!", teriakku dalam hati. Sudah terlalu banyak murid baru dari Indonesia semester ini. Teman-temanku yang dipercaya menjadi buddy dari yang dulunya semangat sampai merasa terganggu. Biasanya anak baru itu cupu dan norak, mungkin karena terkena culture shock. Dan itu membuat kami anak lama sedikit risih. Walaupun aku tidak begitu setuju dengan teman-temanku, tapi aku hanya bisa menertawakan mereka sambil berharap hal itu tidak terjadi padaku aku tidak akan pernah kena. Dan sekarang giliranku.

"I'm sorry but you're the only Indonesian girl in the class. I dont want to make her awkward to have a guy buddy", Ms. Collins mencoba menjelaskan. Sepertinya mukaku mengatakan dengan jelas kalau aku keberatan, dan Ms. Collins sadar akan hal itu.

"If you don’t have anymore question, you’re dismissed. She's coming tomorrow. I'll introduce you guys. Sorry Aya, I need to prepare for the class", dan aku pun harus segera ke kelas juga. Jam pertama kelas Mr. O'brien, tidak boleh telat bahkan semenit pun.

"Alright, miss", cuma itu yang keluar dari mulutku. Bukan aku tidak mau membantu atau menolak menambah teman atau termakan keluhan teman-temanku yang lain, tapi ini sudah dekat dengan ujian akhir. Kenapa harus sekarang sih si Nanda ini pindah?

---

"Aya, this is Nanda. And Nanda this is Aya. She will be your buddy and she will help you with school stuff. Hope you two get along well", ucap Ms. Collins keesokan harinya.

Dan begitulah aku kenal dengan Nanda. Hari-hari selanjutnya penuh dengan mempersiapkan final dan mencoba menjauh dari Nanda. Dan lama-kelamaan aku berfikir, buat apa juga aku tolong dia, hanya gara-gara aku satu negara dengan dia? Toh dia juga bukan siapa-siapa.

---


"Aya siap-siap kita mau kerumah Kekda", teriak Mama dari dapur. Satu-satu nya keluarga kami disini, sepupu jauh Nenek ku yang kupanggil Kekda dan Nekda. Hidup dan tinggal di tempat 3000 mil jauhnya dari keluarga besar, rasanya beruntung sekali punya saudara, walaupun tidak begitu dekat.

"Abis itu bantuin mama didapur ya. Ada tante Mira sama keluarga sepupunya juga datang kerumah Nekda, jadi mau bawa kue lebih", tambah Mama.

"Wah tante Mira juga ada ma? Oke bentar ya maa!", jawabku dengan semangat. Tante Mira itu orangnya baik sekali, dia guru di sekolahku dan dia salah satu guru paling asik di sekolah. Dia adik iparnya Nekda, tentu saja aku bangga masih ada hubungan saudara dengan guru terfavorit satu sekolah. 

Tanpa banyak tanya aku pun segera mempersiapkan diri. Sudah menjadi rutinitas setiap dua sampai 3 minggu sekali keluargaku berkunjung ke rumah Kekda juga. 

Setibanya kami di rumah Kekda, rasanya jantungku mau lepas dan melarikan diri dari tempatnya. Nanda duduk dengan manis di ruang tamu dan tante Mira langsung menghampiri aku dan berkata, "Aya, tante mau kamu kenalan dengan ponakan tante ini, anaknya om Ilham sepupu tante. Kamu year 8 kan? Sama dong ya sama Nanda. Nanda sini kenalin ini Aya. Nanda ini baru masuk jadi tolong-tolong lah dia ya Aya", celoteh tante Mira dengan semangatnya tanpa membiarkan aku ataupun Nanda menjelaskan bahwa kita sudah lebih duluan kenal.

Jadi, dia itu anak sepupunya adek ipar isitrinya sepupu nenekku?

---
                                   
Allah berfirman: 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (49:10)

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (49:10)

Dan juga rasulullah bersabda:

عَنْ أبْنِ عُمَرَ رَضِى الله عَنْه قَالَ: قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ لا يَضْلِمُهُ ولايخذله وَلا يُسْلِمُهُ

"Diriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata: "Rasulullah SAW bersabda: Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menykitinya." (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Sudah jelas dari kedua pedoman utama kita sebagai umat Muslim menjelaskan bahwa sesama umat Muslim itu bersaudara. Tidak harus mempunyai ikatan darah untuk mengatakan bahwa dia adalah kakak atau adikku. Tidak harus tertulis di silsilah keluarga yang sama untuk mengakui kalau dia adalah tante atau pamanku. Terlebih kalau itu menjadi suatu alasan untuk tidak membantu saudara Muslim lainnya. Semoga kita terhindar dari keburukan tersebut dan termasuk Muslim yang rela membantu sesama Muslim lainnya. Wallahua'lam.

Penulis : Balqis Wulandara Supriatna

Read more ...

Friday, 23 December 2016

Jangan Taqlid Buta

Gambar: errorstatistics.com
Namanya Amru bin Amir al-Khuza’i, perjalanannya ke wilayah Syam lebih dari 14 abad silam, ternyata merubah banyak hal di Jazirah Arab kemudian hari.

Di Syam, Amru melihat suatu kaum yang menyembah batu dan kayu, ia sangat tertarik melihat ritual itu, sehingga ia membawa beberapa sesembahan ke Mekkah dan mulai mengajak masyarakat disekitarnya untuk melakukan hal yang sama sebagaimana ia temukan di Syam. Sejak sesembahan yang terbuat dari kayu dan batu itu dibawa masuk ke Mekkah, pengikutnya semakin bertambah banyak, bahkan lambat laun akhirnya menjadi keyakinan yang diresmikan secara konvensional, lalu setiap penyimpangan dari pemberhalaan dianggap sebagai pelanggaran yang menimbulkan aib.

Dikala itu, 360 buah patung di-ilah-kan, yang terbesar diberi nama Hubal, terbuat dari batu akik merah berbentuk manusia dan diletakkan dalam ka’bah. Dibagian samping ka’bah adalagi Isaaf dan Nailah, didekat bukit Arafah ada Uzza, dibawah kota Mekkah ada Khalsah, semua patung-patung itu menjadi ilah, tuhan-tuhan yang diberikan loyalitas. 

Mereka pada zaman itu bukanlah masyarakat yang bodoh dan terbelakang secara pengetahuan. Di bidang ekonomi misalnya, Abul Hasan Ali An-Nadwi menyebutkan bahwa mata uang mereka (dinar dan dirham) menjadi ukuran dan timbangan yang berlaku di dunia perdagangan. Di bidang industri, mereka biasa memanfaatkan tenaga asing dari Romawi dan Persia. Di bidang militer, bangsa Quraisy merupakan kekuatan yang diperhitungkan diseluruh jazirah Arab, bahkan mereka memiliki tentara dari berbagai kabilah disekitar Mekah; kabilah Kinanah, Huzaimah dan Khuza’ah. Dalam urusan manajemen, mereka pun sudah sangat rapi, misalnya bani Hasyim bertugas siqayah (memberi minum jema’ah haji), bani Umayyah bertugas membawa bendera perang (liwa’), bani Mazhum, diantaranya ada Khalid bin  Walid, bertugas mengurusi masalah perlengkapan perang.   

Mereka pada zaman itu bukanlah masyarakat yang bodoh dan terbelakang secara pengetahuan. Mereka telah maju menurut ukuran yang lazim pada zaman itu, namun mengapa mereka dianggap sebagai jahiliyah?. 

Mereka jahiliyah karena mereka meninggalkan Allah!. Mereka berpaling dari tuntunan tauhid dan lari kepada berhala. Mereka dengan sukarela menghambakan diri kepada hasil produk manusia. Mereka membuat patung, lalu disembahnya, jika sudah bosan patung tersebut akan dibuang dan dibuat yang baru. Tuhan bagi mereka hanyalah masalah selera. Bahkan Abu Raja’i Al-Utharidi berkata, “kami dulu menyembah batu, jika kami dapati ada batu lain yang lebih baik, batu sesembahan sebelumnya kami buang. Jika kami tidak dapatkan batu, kami kumpulkan segunduk pasir, lalu kami datangkan kambing, kami perah kambing itu diatasnya, dan kami thawaf disekelilingnya.” (HR. Bukhari)

Bisa jadi Amru bin Amir al-Khuza’i itu juga ada dizaman sekarang. Seseorang yang melawat keluar negri, lalu terperangah dengan kebudayaan yang ada dinegara itu dan membawa budaya-budaya asing itu kenegaranya tanpa filtrasi sama sekali. Budaya berpakaian wanitanya, budaya pergaulan bebasnya, budaya menginjak-injak agamanya. Lalu lambat laun kita merasa ‘budaya’ yang Allah ajarkan dalam kitab-Nya melalui utusan-Nya menjadi tabu dan aneh.

Bisa jadi Amru bin Amir al-Khuza’i itu juga ada dizaman sekarang. Seseorang yang belajar diluar negri, lalu terperangah dengan konsep dan sistem yang diajarkan dinegara itu dan mem-praktekkan ilmu-ilmu itu tanpa filtrasi sama sekali. Konsep kapitalisme-nya, komunisme-nya, teori-teori Marxis-nya, Karl Marx, Che Guevara, Hegel atau Nietsche-nya. Lalu lambat laun kita merasa sistem yang Allah ajarkan dalam kitab-Nya melalui utusan-Nya menjadi tidak keren, tidak ilmiah, tidak cocok untuk diamalkan.   

Cakrawala pemikiran masyarakat beriman harus luas membentang. Dengan ufuk-ufuk yang tak terbatas pada kehidupan dunia saja, tetapi juga mampu menatap dengan sangat jelas kehidupan yang akan dilalui setelah kematian, yang dengan keimanannya itu dapat menjadi filter dan rel baginya dalam menempuh perjalanan panjang kehidupan didunia.

Disaat dunia tengah hiruk pikuk berlomba menampilkan busana wanita terbaru; dengan iman, wanita muslimah masih akan tetap mampu melihat dengan jernih batasan-batasan inovasi yang fleksibel dan prinsip-prinsip syar’i yang tidak ada basa-basi. Disaat media dari berbagai arah berpacu mempertontonkan gaya bergaul kekinian, dengan iman, para pemuda Islam masih akan tetap mampu melihat dengan jernih apa yang boleh dan tidak boleh ia dekati. 

Dengan iman yang selalu terbarui, dengan teman-teman yang senantiasa menasehati, dengan ilmu yang akan terus kita pelajari, semoga Allah melindungi kita dari menjadi seperti Amru-Amru abad 21. Amin.  

Penulis : Qoriatul Hasanah

Read more ...

Monday, 12 December 2016

Saat Diam menjadi Dakwah



Sumber : pinterest.com


Bilal Philips bercerita, sebelum masuk islam, saat ia tinggal di Malaysia bersama keluarganya, Ibunya mengasuh seorang muslim dari Indonesia. Muslim tersebut tidak pernah bercerita sedikitpun tentang ajaran Islam, tapi dia beribadah dan bermuamalah dengan baik. Hingga suatu hari, saat Bilal Philips memeluk islam, tidak ada pertentangan dari keluarganya. Mereka telah melihat Islam dari seorang yang pernah diasuhnya.

Sebuah tayangan di Youtube bertema "khowatir 5" menyajikan nilai-nilai kebaikan di negara Jepang tentang kesopanan, ke-amanahan, dan ketertiban. Kemudian dia menyajikan pula gambaran di beberapa negara muslim. Secara umum, di jepang lebih baik. Dalam hal amanah, mereka bahkan mempunyai slogan "nothing get lose in japan". Dimanapun barang anda ketinggalan, insyaAllah anda akan menemukannya utuh tanpa kekurangan.

Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat dipercaya sekalipun oleh Orang yang tidak beriman. Saat hendak hijrah ke Madinah, beliau meminta Ali RA untuk mengembalikan barang titipan dari kaum kafir quraisy Mekkah. Soal akhlak, tidak ada yang yang lebih baik dari Nabi Muhammad SAW. "Sesungguhnya, aku diutus untuk menyempurnakan Akhlak" Begitu sabda Nabi. Ketika Aisyah RA ditanya tentang akhlak beliau, jawabnya "Akhlaknya adalah Al Quran".

Akhlak yang baik merupakan pemandangan pertama yang membuat orang jatuh cinta, bahkan sebelum tau tentang keilmuannya sekalipun. Rumus ini berlaku sebaliknya. Ilmu yang banyak bisa terlihat tak bernilai saat akhlak tak ada. Konon, Iblis adalah makhluk yang pandai, oleh karena itu Allah tidak menguji mereka dengan pertanyaan seperti malaikat. Tetapi meminta untuk bersujud kepada Adam AS, namun karena kesombongannya ia tidak mau melakukan hal itu.

Sebuah wise words "Action speaks louder than words" juga tampak nyata dalam kehidupan kita, kan? Sudah naluri manusia untuk lebih percaya pada yang nyata terjadi daripada sekadar janji. Di dalam Al Quran, perintah beriman hampir selalu datang bersama perintah untuk berbuat baik. ".....Berimanlah dan berbuat baiklah kalian...." Allah SWT juga akan Mengangkat derajat orang yang berilmu dan berbuat baik.

Dalam situasi apapun, berusahalah untuk menjadi muslim yang baik. Muslim yang tidak membuang sampah sembarangan, Muslim yang tidak datang terlambat, Muslim yang menghormati dan Suka menolong orang lain, Muslim yang giat beribadah, Muslim yang berprestasi, Muslim yang mencontoh Akhlak Rasulullah SAW sebaik mungkin. Itulah yang akan menjadi Citra Islam. Maka jadilah muslim yang mengamalkan ajaran Islam. Bukan sekedar Tau ajaran Islam.

Dengan akhlak yang baik, dakwah tentang Islam akan lebih terlihat dampaknya. Umar RA berkata " Jadilah Pendakwah ke jalan Allah meskipun dalam Diam". Sahabat bertanya " Bagaimana caranya wahai Umar RA?" "Dengan Akhlakmu" Jawab Umar RA. Kita tidak akan punya kekuatan untuk mengendalikan orang lain seperti kekuatan untuk mengendalikan diri kita sendiri. "Mulailah dari diri sendiri, sekarang dan dari yang terkecil" begitu pesan Aa Gym.

Mulailah dakwah dengan berakhlak yang baik, agar Diam pun tetap bernilai dakwah.

Dari Momentum Hari Kelahiran Nabi ini, belajarlah untuk Mencontoh beliau dengan membaca ulang Akhlak yang mengagumkan dalam Perjalanan hidup Manusia Paling Allah SWT cintai tersebut.


Penulis : Muhammad Hamka
Read more ...

Sunday, 11 December 2016

Musibah Sebagai Pengingat


Gambar: squamishchief.com


Saat itu, pukul 5:00 sebelum fajar, adzan subuh belum lagi terdengar sayupnya sehingga manusia-manusia masih terlelap dalam tidurnya. Namun,beberapa menit kemudian, tiba-tiba terasa bumi bergoyang, dinding-dinding rumah terdengar berdetak, manusia-manusia tadi yang sebelumnya masih berlayar di mimpi-mimpinya, terbangun, terkejut, dan langsung berhamburan keluar dari rumah-rumah mereka.

Apa yang terjadi? Ya, tempat kami digoyang gempa lagi. Surat-surat kabar hari itu akhirnya memberitakan; menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan 6,5 SR. Gempa bumi tersebut terjadi pukul 05.03 WIB, dengan pusat gempa pada 5,25 LU dan 96,24 BT. Gempa tersebut terjadi di darat pada kedalaman 15 km.

Dan sampai saat ini, dikabarkan lebih dari 100 orang meninggal dan hampir 600 orang luka-luka. Gedung-gedung, rumah dan ruko runtuh dan hancur seketika. Innalillahi wainna ilaihi jari'un.




Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(155) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (seusungguhnya kami milik Allah dan sesunnguhnya kami sedang menuju kemabali kepada-Nya) (156) Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (157) (Q.S. Al-Baqoroh / 2 : 155 -157)

Tidak dapat dipungkiri, semua musibah yang Allah timpakan kepada kita, mengandung ibrah di dalamnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah karena Allah ingin memperingatkan kita, atas kekhilafan dan kelalaian selama ini. Karena Dia masih sayang kepada kita, maka Dia masih mau memperingati kita. Karena Dia tidak mau hambaNya berpaling dariNya, maka dia sentil sedikit kesadaran kita supaya kita yang dulunya sudah sedikit melenceng dan berbelok arah, dapat kembali berjalan di jalan lurusnya. 

Menghubungkan dengan musibah gempa ini, bisa kita logikakan, alasan mengapa Allah timpakan gempa ini pada pukul 5:00, beberapa menit sebelum subuh. Karena mungkin saja Allah ingin mengingatkan kita untuk kembali memenuhi shaf-shaf di masjid saat shalat subuh. Memberi nyawa lagi kepada masjid-masjid saat subuh tiba. Mengikuti perintahNya "ashalatu khairun minan naum". 

Jadi, wahai saudara saudara ku, janganlah bersedih. Apalagi sempat terlintas dibenakmu bahwa Allah tak sayang lagi padamu. Karena musibah ini hanyalah cara Allah menyentil kesadaran kita, ketika kita sudah tersesat terlalu jauh, berbuat khilaf terlalu banyak. Meskipun banyak korban berjatuhan, toh kita memang tidak pernah tau ajal kita kapan datangnya. Bisa saja saat kita sedang bersantai-santai dalam keadaan yang aman-aman saja, tapi bisa juga saat memang Allah timpakan suatu musibah kepada kita. Karena Dialah yang Maha Berkehendak. 

Jangan bersedih saudaraku, jangan bersedih Acehku. Allah menyayangimu.

Penulis: Arini Diyah Fadhillah.








Read more ...

Thursday, 8 December 2016

Muslim Seperti Apakah Kita?



Saudara ku sekalian, zaman kini sudah berubah dan tantangan pun semakin berat. Salah satu tantangan bagi kita seorang muslim di zaman ini adalah menjaga identitas kita yang boleh dibilang sudah hampir hangus ditelan zaman. Mau tidak mau kita yang sudah bersyahadat memiliki tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan Rasulullah Muhammad SAW. Apakah dengan kita menjadi seorang muslim, akankah orang lain yakin bahwa kita benar-benar seorang muslim? Apa sih identitas kita sebagai seorang muslim? Ya. Jawaban yang paling sederhana adalah akhlakul karimah.

Bukankah Rasulullah Muhammad SAW sudah mengajarkan kita bagaimana berperilaku yang baik, yaitu berusaha memiliki akhlaqul karimah. Wahai umat, kemana akhlak- akhlak para Rasul dan para sahabat serta orang-orang soleh? Kemana sikap saling tolong menolong dan mengucapkan salam sesama muslim ? Kemana senyum-senyum dan husnudzan yang semestinya dipupuk setiap saat. Bukankah Rasulullah mengkhawatirkan kalian di penghujung hidupnya?

Seakan-akan saat ini identitas itu terasa asing bagi kita. Padahal setiap kita adalah Da’i untuk agama kita. Da’wah bukan hanya tugas para ustad dan ulama namun ini tugas kita bersama.

Satu kalimat yang mungkin merepresentasikan keadaan kita saat ini yaitu seperti apa yang dikatakan oleh Sayyid Muhammad al-Naquib bin Ali al-Attas “The Loss of Adab”. Dimana adab-adab yang semestinya kita jaga dan kita pupuk telah hilang dan tergantikan oleh derasnya arus mode zaman ini.

Maka dari itu penulis ingin mengajak kepada saudara-saudara semua agar berusaha untuk selalu istiqomah dalam kebaikan. Berusahalah untuk berbuat kebaikan walaupun kita belum sepenuhnya baik, Berkatalah yang baik-baik walaupun lisan kita masih kaku mengatakannya, dan Saling nasihat menasihati lah walau diri ini masih berusaha memperbaiki diri.

Dengan begitu ukhuwah kita akan terbangun sehingga akhlak yang sudah Rasulullah SAW ajarkan tersebar keseluruh muslim sehingga ini menjadi identitas kita sebagai seorang muslim.

(13)إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

 (14)اُولَئِكَ أصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (13) Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (14) [QS. Al Ahqaf: 13- 14]

Pada akhirnya, jika diri kita disibukan dengan kebaikan maka layak kah kita menjadi seorang Da’i yang tidak perlu harus berbicara banyak tapi akhlaknya sudah menjelaskan apa itu Islam dan siapakah itu Muslim?? Wallahua'lam.

Penulis : Abdullah Faqots
Read more ...

Friday, 2 December 2016

Menjadi Lebih Beradab


sumber: kabarmakkah.com
Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus, Dia lah sang pencipta yang mempunyai 99 asma wa sifat, al mufid ala makhluqot .  Urgensi dalam mengenal Allah mungkin telah mahir namun sayangnya adab kepada-Nya belum banyak terintropeksi.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Tidak ada satu pun raja di muka bumi ini yang meskipun sekuat Luffy, sehebat Kenshiro dan setenar Superman yang siaga untuk mendengarkan keluh kesah yang tak berujung oleh rakyatnya selama 24 jam penuh, kecuali Allah. 

Allah SWT memerintahkan sholat disetiap sudut waktu untuk mendengar semua ratapan kehidupan  yang sementara. Bahkan untuk meminta semua perkara dunia, ada waktu mustajab untuk berdoa kepada-Nya.

Tapi acap kali kita melupakan adab. Straight to the point dengan setumpuk masalah dan pengharapan tapi ketika beribadah, menutup mulut yang menguap saja tidak bisa. Pantaskah ? Beradabkah? Tentu hal seperti itu tidak akan mengeluarkan kita dari akidah, hanya saja yang sangat disayangkan adalah ketika malah seorang dosen yang berbicara kepada kita, rasa kantuk dan ingin menguap-pun mati-matian kita musnahkan seketika, bahkan posisi tegap bak perwira rela kita lakukan.

Tidakkah jiwa ini terkepul oleh rasa malu? Bukankah kita mencintai-Nya walau tanpa pertemuan dengan-Nya ? 

Ya Allah hamba mau kaya, ya Allah hamba mau “dia” menjadi milik hamba ya Allah,  ya Allah dan ya Allah. 

Kalimat pengagunganlah yang seharusnya menjadi awal dari setiap bait doa. Ucapkanlah pujian kepada Allah SWT dengan minimal mengucap “Alhamdulillahirobbilalamin”, kemudian bersholawat kepada Rasulullah, lanjutkan dengan asmaul husna dengan santun dan penuh kerendahan diri.

Setelah itu tuangkan semua perkara yang menyelimuti pikiranmu. Lalu, pelajari waktu-waktu mustajab berdoa agar dosa yang kita perbuat, perlahan terkikis oleh pengampunan dari Dzat yang maha Pengampun. 

Penulis: Afifah Dinar
Read more ...
FOTAR IIUM - Sepanjang Jalan Dakwah