Friday, 30 September 2016

Karena Engkau Bersama Allah, Kawan!

Hidup adalah tentang masalah dan cara kita mengatasinya. Namun dalam perjalanan mengarungi rintangan kehidupan, adakalanya kita merasa lelah, hilang semangat, dan bahkan putus asa. Dalam keadaan seperti itu, hal-hal penghibur dan penenang diri tak dapat dipungkiri bahwa memang kita butuhkan. Manusia mempunyai banyak cara untuk menghibur dan menenangkan diri dari problematika kehidupan, sebelum akhirnya kembali berusaha untuk menyelesaikan permasalahannya. Diantaranya cara-cara yang sering dipilih adalah seperti mendengarkan atau bermain musik, curhat kepada kawan terdekat, melampiaskan dengan makan makanan favorit, tidur, atau bahkan ada yang berpura pura tidak punya masalah hingga masalah itu terlihat lebih ringan, dan masih banyak lagi. Cara-cara tersebut mungkin satu dua kali bisa berhasil, tapi sebenarnya tidak secara absolut dapat membawa ketenangan dan keringanan hati untuk semua orang.
Saya pribadi satu dua kali memilih cara cara klise tersebut untuk menenangkan diri ketika dirundung masalah. Hanya saja pada akhirnya saya menyadari sepenuhnya bahwa pada hakikatnya hati kita ini ada yang membimbingnya. Jadi, hanya melalui pembimbing itu lah hati ini bisa kembali tenang. Ya, sadar atau tidak, ketenangan hati adalah yang sebenarnya paling kita cari ketika menghadapi suatu masalah, ketika akan membuat suatu keputusan.
Dan pembimbing itu ialah Allah azza wa jalla, pencipta manusia, sang pembolak balik hati.
Ialah zat yang menanamkan rasa tenang dan tentram di hati tiap manusia.
Ia yang dengan 99 namaNya adalah apa yang kita perlukan untuk menghadapi segala sesuatu dalam hidup karena Ialah Allah yang karena izinnya keberadaan kita nyata.
Oleh karena itu, mengenal Allah adalah modal awal untuk menjalani hidup sesuai tujuannya. Mengenal Allah adalah modal untuk menjalani hidup dan menakhlukkan tantangan yang ada padanya. Mengenal Allah adalah modal untuk menghadapi masalah yang datang silih berganti.
Ada 99 Asmaul Husna, yang Rasulullah bersabda jika seseorang meng-ahsha’kannya, surga dijamin baginya (HR. Bukhari no.7392). Meng-ahsha’ berarti menghafalkan, memahami maknanya, serta beramal dengan isi kandungan dari nama tersebut.
Sebutlah Al Fattah, yaitu Allah yang maha pembuka. Allah, sang maha penentu apa yang harus dibuka. Ia yang membukakan kebenaran dan memperjelas apa yang terlihat kabur. Ia yang maha pembuka hati. Yang hanya di tanganNya bisa dibukakan pintu kesuksesan. Ia yang membukakan pintu keluar dari segala masalah.
Sebutlah Al Muta’aali, yaitu Allah yang Maha Tinggi. Yang super superior dari apapun yang ada di muka bumi. Allah yang diatas segala atas. Yang bantuanNya diatas imajinasi, diatas pemikiran, diatas keterbatasan otak manusia. Bahwa masalah yang ada di depan akan dengan mudah diselesaikan dengan berpegang kepada Yang Ia yang Maha Tinggi.
Sebutlah Al Qadir, yaitu Allah yang maha Berkuasa. Satu satunya zat yang memiliki kekuatan mutlak untuk melakukan apa yang Ia kehendaki. Bahwa dengan kehendakNya, kemudahan pada hal yang terlihat tidak mungkin adalah keniscayaan.
Dan, sebutlah Allah, yang telah mengajarkan hambanya ucapan “Bismillahir Rahmanir Rahim” untuk merangkum semua namanya dalam satu kalimat, sebagai bentuk anugerahnya. Allah, pencipta segala sesuatu, satu-satunya pemilik seluruh makhluk. Dialah Allah yang menghimpun gumpalan awan, yang memanaskan dan menerangi bumi, merubah arah angin, menetapkan burung-burung tetap di langit, menyemai benih, menentukan detak jantung manusia, menetapkan fotosintesis tanaman, menjaga planet-planet pada orbitnya, dan hal hal lainnya yang mungkin belum kita ketahui, karena Ia yang Maha Tahu.


Kembali ke masalah tadi, lantas bagaimana bisa ia tetap terlihat besar jika engkau sudah bersama Yang Maha Besar?



Penulis : Fadhilah Asaadah Abdul Aziz
Read more ...

Saturday, 17 September 2016

Sepenggal Cerita dari Pantai Seri Bulan: Rihlah Fotar

Memanfaatkan libur panjang akhir pekan, pada Sabtu (17/9) Forum Tarbiyah IIUM mengadakan kegiatan rihlah ke Pantai Seri Bulan, Port Dickson. Setelah sekitar satu setengah jam perjalanan dari kampus IIUM, birunya laut Selat Malaka seketika memanjakan mata. Basah pasir pantai seolah menjadi penghilang lelah setelah dua minggu pertama kuliah.

Tangan-tangan saling bersalaman, nama-nama saling ditukarkan, sekadar pembuka hari yang panjang. Sosok-sosok yang semula terlihat rikuh satu sama lain seketika larut dalam serunya permainan pemanasan. Barisan dibuat, tangan-tangan dieratkan ke pundak, sebelum kemudian menyatukan irama lompat, mengikuti aba-aba pemimpin acara. Maju, mundur, kiri, kanan, depan, belakang. Tapak-tapak kaki berdesakan di hamparan pasir. Semakin banyak, semakin banyak.

Sementara di pinggir pantai, para penyelenggara acara tengah sibuk mempersiapkan perlengkapan. Botol-botol air. Tali-tali rafia. Ember-ember plastik berbagai ukuran yang jelas dipinjam dari pemilik yang berbeda. Balon-balon plastik. Hingga gelas-gelas kertas. Semua diatur, ditata sedemikian rupa.

Siap sudah.

Permainan pun dimulai. Badan distimulasi untuk bergerak. Juga otak, harus diputar untuk menyelesaikan berbagai tantangan. Dari permainan memindahkan bola ping-pong dengan gelas-gelas air yang mengingatkan pada praktikum sains di sekolah dulu, hingga estafet air yang seru-seru basah.

Satu persatu permainan dituntaskan. Peluh bercucuran. Namun senyum dan tawa tak sekalipun hilang dari wajah. Juga kata-kata penyemangat yang tak henti diberikan kepada kawan sepermainan. 

Riuhnya permainan berakhir tengah hari. Matahari sudah berada di atas kepala. Sisa-sisa permainan dibereskan. Para peserta rihlah bergegas membersihkan badan. Nikmatnya nasi ayam menyusul kemudian. Badan sudah kembali segar. Perut sudah diisi. Azan berkumandang. Sholatpun ditegakkan. Di pelataran laut Selat Melaka, kepala kami menunduk dalam sujud, mengingatkan keagungan Sang Pencipta luasnya lautan, juga semesta dan seisinya.

Taujih singkat lantas menjadi makan siang kedua. Abang kami, Ahmad Rasikh, berkesempatan datang untuk berbagi pengalaman dan pesan hidup. Ia perkenalkan bagaimana bibit Fotar disemai dan dihidupi. Pesannya satu: istiqomah adalah kuncinya. Keteguhan hati untuk melayani umat, melanjutkan visi mulia Rasulullah SAW. 

Beliau garis bawahi juga pentingnya visi hidup. Jauh-jauh ke IIUM, meninggalkan sanak keluarga, apa yang kita cari? Apa yang ingin kita raih? Sudah kita hidupi visi kita? Target-target kita? *hening*
Foto di pantai, melawan arus! :D
Rihlah Fotar. Selalu menjadi semacam charger pengisi ulang bilik-bilik kalbu. Kesempatan teman-teman lama kembali bersua. Juga penyambung generasi-generasi yang berbeda (semoga paham maksudnya: generasi terdahulu, dengan generasi yang lebih muda) dengan cara yang menyenangkan.

Semoga bukan kegembiraannya saja yang kita ingat, namun juga kita ikhtiarkan pesan-pesan yang sudah disampaikan. :)

Pantai Seri Bulan, 17092016 - 16:36
Seseorang - sudah empat kali ikut Rihlah Fotar :D
Read more ...

Saturday, 20 August 2016

ARTI KEMERDEKAAN BAGI KAMI


Beberapa orang bilang begini kepada saya, "Ah elu ga inget negara sendiri lu lama2 di negeri orang." atau "Ah dia mah udeh jadi warga negara sana kali". Sejenak saya berfikir iya juga kali ya, keenakan di negeri orang jadi kurang inget sama negeri sendiri. Batin saya bergejolak, timbul banyak pertanyaan-pertanyaan dan kata-kata sebagian orang yang terngiang di kepala saya yang membuat saya semakin bingung. "Emang kenapa sih kita harus mikirin negara sendiri?", "Duh kalo inget Indonesia tuh ya bawaannya kesel mulu. Macetnya lah,  korupsinya lah, sistem pemerintahannya yang amburadul lah, kriminalitasnya yang makin hari makin parah.. Aduuh bikin pusiing aja, udah gitu mau apa2 susah lagi.. Hadeuh".


Semua itu merupakan sebuah gejolak yang luar biasa untuk saya saat itu. Terutama saya yang sudah merasakan bagaimana mudah dan nyamannya kami hidup di negeri orang. Jalanan yang rapi dan bersih, fasilitas dan sistem yang cukup mudah, pendidikan dan kesehatan yang juga sangat diperhatikan sekali kemudahannya, terutama untuk warga lokal. Dan banyak deh.

Namun, jujur, jiwa saya menentang ketika beberapa orang bilang ke saya seperti tadi. Kata siapa hidup di negeri orang bikin kita ga peduli sama negara sendiri? Jiwa dan raga yang jauh tidak membatasi kita untuk berkarya dan bekerja untuk tanah air. Banyak hal yang dapat kita lakukan walaupun kita sedang di negeri orang. Mulai dari kegiatan kepedulian masyarakat, seperti kegiatan sosial dan keagamaan yang notabenenya lebih ditujukan kepada saudara-saudara WNI kita yang ada di sana, sampai memperbanyak bekal dan ilmu yang nantinya dapat menjadi solusi bagi rentetan problematika yang ada di negara kita. 

Daripada hidup di negara sendiri tapi malah jadi beban negara atau action-nya kurang, lebih baik menuntut ilmu dan mengumpulkan bekal di negeri orang sehingga kontribusi kita bisa lebih optimal dan lebih mantap. Memang negara itu bukan agama yang menjadi segala tujuan dari kehidupan kita. Memang tanah air bagi kita umat muslim bukan hanya negara tempat kita dilahirkan atau berasal saja, tapi dimana ada kaum muslimin di situlah tanah air kita juga. Tetapi menurut saya kepedulian kita terhadap negara kita bisa menjadi mediasi atau jembatan bagi kita untuk mencapai tujuan dari agama itu sendiri, yaitu membentuk suatu komunitas atau negara agar menjadi sebuah negara yang baik yang penuh dengan ampunan dan rahmatNya "Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofuur".


Masyarakat yang jauh dari kemaksiatan, masyarakat yang memiliki akhlak dan ketakwaan yang tinggi terhadap Rabbnya, negeri yang kokoh sistem dan fasilitasnya, pemimpin yang amanah sehingga mampu dan siap ketika bersaing dan menghadapi musuh-musuh islam. Inilah yang harus digaris bawahi bagi kita sebagai umat islam, sebagai warga negara ini, alasan kenapa kita harus peduli terhadap bangsa ini. Bukan mau atau tidak mau, tapi sudah menjadi suatu kewajiban, sudah menjadi tugas bagi kita, untuk kerabat kita, untuk bangsa kita. 

Inilah yang harus menjadi titik tekan kita dalam mengartikan sebuah kemerdekaan negara ini. Sebuah momentum untuk membuat suatu perubahan, sebuah titik tolak untuk membakar semangat lagi dalam bekerja dan berkarya untuk agama dan bangsa. Bukan sekedar rutinitas perayaan yang tidak lebih dari sekedar simbol perayaan setiap kali negeri ini mengulang tanggal kemerdekaannya. Tidak jadi masalah sebenarnya, tapi yang perlu lebih diperhatikan lagi adalah peningkatan dari action perubahan kita. Sudah sejauh mana bangsa ini berubah selama lebih dari 70 tahun merdeka.

Di sini saya dan banyak teman saya menimba ilmu, di negeri orang lain, kami berharap dan akan berjuang,  untuk membawa bekal yang cukup untuk kontribusi kami kepada negeri kami. Suatu harapan bagi kami, dengan momentum kemerdekaan ini, kami dapat mereview kembali semangat dan perjuangan kami, langkah-langkah dan visi misi kami dalam menyusun mozaik - mozaik kehidupan kami di sini. 

Wahai kawanku semua, sadarlah! Kita adalah aset bangsa. Manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Bukan untuk diri kita sendiri, bukan hanya untuk masa depan kita. Tapi jauh daripada itu, untuk bangsa kita, untuk negara kita, dan untuk agama kita. 

Semoga kita bisa menjadi Habibie yang berikutnya, Dr Warsito yang berikutnya. Sebagai sosok anak bangsa yang membawa kebanggaan bagi bangsa dan negeri kita yang kita cintai.

Merdeka!

Ditulis oleh: Zulfani Ahmad Zuhri
Read more ...

Saturday, 13 August 2016

Samudera Kasih Seorang Ayah

Seorang ayah dan anaknya
Jam sudah menunjukkan hampir pukul dua belas tengah malam ketika seorang sopir mobil sewa mengantarkanku pulang. Sang sopir, sebut saja namanya Pak Yasir, sudah hampir berkepala empat. Menurut ceritanya, ia sudah hampir enam tahun menjalani profesinya tersebut.

"Sebelum ni saya bawa teksi. After my first son was born ada rizki datang dari seorang kawan. He asked me to join his company, with of course higher pay. So I said okay lah," tuturnya menggunakan bahasa Melayu bercampur Inggris.

"So your son now is six years old lah?"

"Yes, he is six years three months old now. Petang tadi dia call saya, tanya boleh balik awal ke tak sebab dia nak ajak pergi pasar malam. Semalam istri saya kata Asyraf (anak lelaki Pak Yusri) sudah selesai menghitung uang raya yang ia dapat dari atok dia, uncle, auntie, semua lah. So, hari ni dia nak belanja saya makan dekat pasar malam," Pak Yusri panjang lebar menceritakan anaknya. Jalanan Kuala Lumpur tengah ramai kendaraan bermotor malam itu, sehingga Pak Yusri memacu mobilnya perlahan saja.

"Sweetnya Asyraf..." jawabku sekenanya.

"Memang dah kebiasaan dalam keluarga kami."

"So Asyraf tak jadi pergi pasar malam lah tadi?"

"Dia tetap pergi dengan Mak dia." sejurus dengan itu Pak Yusri menunjukkan percakapan via whatsapp-nya dengan sang istri kepadaku. Sang istri mengirimkan foto ayam goreng yang dibungkus plastik dan setoples rambutan. Caption-nya terbaca: untuk ayah, dari Asyaf.

Seketika kulihat waktu chat itu masuk, pukul 20.16. Otakku dengan segera merangkai cerita dari kejadian sekitar waktu tersebut: aku memaksa Pak Yusri yang duduk di dalam mobil untuk ikut kami makan malam, tetapi ia dengan halus menolaknya.

"Jadi Bapak tadi tidak mau makan dengan kami sebab mau makan di rumah ya?" tanyaku, simpulan dari otak-atik pikiranku. Yang kutanya hanya menoleh ke arahku sambil tersenyum, tanda mengiyai.

"Saya memang jarang sekali mau diajak tamu saya makan. Setiap kali saya nak makan, terlebih kalau yang akan saya makan itu makanan-makanan mahal, yang saya ingat adalah anak istri saya di rumah. Mereka memang tak tahu pun kalau saya tak cakap. Tapi hati saya memang tak okay lah sebab bila saya makan benda-benda mahal tu, belum tentu saya boleh belikan anak istri saya benda yang sama. Tak kan saya makan mewah-mewah, tapi anak istri saya makan ayam goreng je dekat rumah kan?" Pak Yusri berucap panjang lebar. Aku mengangguk-angguk saja. Mataku terasa panas.

Pak Yusripun melanjutkan, "Jangankan benda-benda mahal, makanan pinggir jalanpun saya akan bungkus, lalu bawa balik, makan sama-sama. Dari Asyraf masih kecil dulu sampai sekarang dia sudah masuk sekolah, tak pernah berubah."

Aku sesekali menganggukkan kepala. Atau menoleh ke arahnya sambil ber-hmm pendek.

"Benda-benda macam ini akan orang kata sweet-lah, comel-lah, but it's more than that tau. Saya percaya benda-benda kecil macam ini pun boleh menjadi bahan pengajaran. Asyraf misalnya, dia tak akan pernah lupa untuk sisihkan apa-apa untuk saya apabila saya tak ada. Dia selalu kata pada Maknya, untuk Ayah. Bukan benda besar mungkin, tapi sangat berarti berarti untuk saya. Allahyarham bapak saya selalu bilang, keberhasilan seorang ayah itu adalah bagaimana ia mendidik anaknya."

Mataku tak terasa basah begitu Pak Yusri menyelesaikan ceritanya. Seketika petuah Buya Hamka dalam buku Cermin Penghidupan berputar-putar dalam benakku.

“Panggilan 'ayah' dari anak-anak, ketika si buruh pulang dari pekerjaannya, adalah ubat duka dari dampratan majikan di kantor. Suara 'ayah' dari anak-anak yang berdiri di pintu, itulah yang menyebabkan telinga menjadi tebal, walaupun gaji kecil. Suara 'ayah' dari anak-anak, itulah urat tunggang dan pucuk bulat bagi peripenghidupan manusia.”

Airmataku terasa semakin deras mengucur begitu mengingat kapan terakhir kali aku memeluk Bapakku. Kapan terakhir kali kudekap erat tubuhnya, kuciumi tangannya. Kapan terakhir kali kupanggil namanya. Kapan terakhir kali kutanya sudahkah ia meminum obatnya. Sementara terkadang berbagai pertanyaannya hanya kujawab seadanya.

Malam itu, lewat Pak Yusri, Allah seolah mengingatkanku betapa banyak hal yang terkadang kuangkap remeh, sebenarnya adalah bentuk cinta tak berbatas Bapak padaku. Malam-malamnya yang ia gunakan untuk mencari nafkah, sementara aku tertidur pulas di atas kasur, adalah caranya menghidupi kami sekeluarga. Baju Lebarannya yang tak pernah ganti, adalah caranya agar anak-anaknya tetap bisa membeli baju baru. Dan ...

Ayah, Bapak, Papah, Abi, Abah, terimakasih atas samudera kasih tanpa batasmu. Kami mungkin tak mengerti caramu menyayangi kami, tapi cintamu begitu nyata kami rasai. Semoga Allah membalasmu.

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku kecil.”
Read more ...

Friday, 5 August 2016

P E R U B A H A N


Perubahan adalah sesuatu yang niscaya. Sesuatu yang pasti terjadi. Setiap hari, setiap jam, menit bahkan detik. Dan sadar atau tidak, dalam hidup kita kerap kali menegasikan dan menyalahkan perubahan. Contohnya saja dalam kehidupan sehari-hari, ketika bertemu teman lama, tidak jarang kalimat-kalimat seperti "ihh, kamu ngga berubah ya.. Dari dulu sampai sekarang masih gini-gini aja" atau "kamu berubah ya sekarang, aku lebih suka sama kamu yang dulu." terdengar atau malah terucap oleh kita. Huft, serasa pengen nyanyiin lagunya tegar aja ~ aku yang dulu bukanlah yang sekarang~

Begitulah kita sebagai manusia. (Hakikatnya) selalu mengalami perubahan. We keep on changing. Baik itu perubahan dari segi fisik, mental, akal atau bahkan keimanan. Dan diantara organ tubuh yang rentan untuk selalu berubah adalah hati. Hati adalah sumber segala perubahan, dalam hal baik ataupun buruk.

Rasulullah SAW bersabda;

"Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Oleh karenanya, Rasulullah menyarankan kita untuk selalu berdo'a, yaitu;

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.” [HR.Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525]. “Wahai Dzat yg membolak-balikan hati teguhkanlah hatiku diatas ketaatan kepadamu” [HR. Muslim (no. 2654)].

Tapi, disamping semua pembahasan diatas, ada satu hal yang perlu dijadikan catatan penting, yaitu tidak ada perubahan yang instan. Karena seinstan-instan-nya mie instan, dia tetap melalui beberapa proses perubahan, jadi tetap saja,ngga instan.

Oleh karena itu, perubahan akan sangat identik dengan pembiasaan diri terhadap sesuatu. Seperti pepatah yang mengatakan "Bisa karena biasa, biasa karena dipaksa". Iya, hampir segala hal yang 'bisa' kita lakukan saat ini, tidak muncul secara tiba-tiba. Ada proses pembiasan yang tidak jarang diawali dengan paksaan. Baik itu paksaan dari orang lain, keadaan, maupun dari dalam diri sendiri.

"Kadang, kebaikan harus dipaksakan" begitu kata banyak orang.

Tepat sekali! Kita perlu 'usaha' dan 'paksaan' yang lebih banyak dan kuat untuk mewujudkan suatu kebaikan. Karena ketika kita melakukan kebaikan, banyak pasukan yang mati-matian menghadang kita supaya tidak melakukannya. Sebut saja mereka syeitan dan hawa nafsu. Tidak seperti saat ingin berbuat buruk, ia sangat mudah dibiasakan karena pasukan-pasukan tadi akan berbalik menyokong dan menyemangati kita. Sehingga tanpa usaha yang berartipun bisa di'biasakan'. Contohnya seperti tidur kesiangan, melalaikan shalat,bermalas-malasan, dan hal-hal buruk lainnya.

Allah berfirman;

"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’ad ayat 11)

Merujuk kepada ayat diatas, maka yang harus kita lakukan adalah mengerahkan usaha semaksimal mungkin agar hati kita tetap kokoh berjalan menapaki jalanNya yang lurus dan agar perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri kita masih dalam kategori 'kebaikan'. Bagaimana caranya? Sangat banyak,sebenarnya. Salah duanya adalah menyibukkan diri dalam perkara-perkara yang baik (jika tidak dengan kebaikan, pasti kita akan disibukkan dengan keburukan,dan akan selalu begitu) dan berteman dengan mereka yang senantiasa mengingatkan kita kepada kebaikan, mengingatkan kita pada Allah.

Sekian dan salam perubahan!!

Penulis : Shofia Shabrina
Read more ...

Monday, 1 August 2016

Adab di Masjid, karena Masjid adalah Sebaik-baik Tempat Kita


Masjid adalah rumah yang paling agung bagi setiap muslim di muka bumi ini. Rumah tempat berkumpulnya semua saudara satu keyakinan tanpa membedakan kaya dan miskin. Tidak ada peraturan di mana yang kaya harus berdiri didepan bilamana yang miskin berdiri di luar ruangan. Tidak hanya untuk solat, masjid mempunyai banyak fungsi yang lain, seperti tempat untuk menuntut atau sharing ilmu, tempat belajar untuk anak-anak, dan masih banyak lagi. 

Disamping banyak fungsi masjid selain untuk solat ada juga adab-adab ketika kita berada di dalam masjid. Jangan takut dulu ketika mendengar kata adab karena Islam tidak akan mewajibkan sesuatu yang susah dilakukan oleh manusia. Adab ini hanya peraturan yang bermanfaat bagi seluruh jama’ah supaya tetap aman dan nyaman beribadah di masjid. Baiklah buka mata dan hati, semoga ilmu yang sedikit ini mampu kita fahami dan kita amalkan, insyaALLAH.
  • Ikhlas semata-mata karena Allah ta’ala

  • Hendaknya seorang muslim melangkahkan kakinya ke masjid hanya karna Allah ta’ala bukan untuk mendapatkan pujian dari mulut-mulut manusia yang pujianya sama sekali tidak bisa kita jadikan jaminan untuk masuk surga Allah. Seperti halnya hadits yang pertama yaitu “segala sesuatu bergantung pada niat”. Nah jadikalau niatnya solat karena Allah ya niatnya semata-mata ingin meraih ridhonya Allah, tapi kalau niatnya ingin famous atau nge-top ya silahkan pergi ke korea lalu bergabung dengan opa-opa bikin boyband.
  • Berpakaian sebaik-baik pakaian
  • Stop! Jangan salah tafsir ya. Di sini kata sebaik-baiknya pakaian bukan berarti yang mahal,baru,keren dan nge-jreng. Maksud dari kata sebaik-baiknya adalah yang bersih, bebas dari najis dan menutup aurat, menutup ya bukan “membungkus”.
يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ 
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid” (QS. AI-A’raf: 31)
  • Menghindari mengkonsumsi makanan yang berbau
  • Peraturan yang ini mungkin agak sedikit berat bagi orang-orang yang suka pete, jengkol, kabau, bawang merah dan putih, bawang bombai, termasuk rokok dan makanan lain yang meninggalkan bau yang menyengat di mulut, akan tetapi peraturan ini membawa kebaikan bagi seluruh penghuni masjid pada saat beribadah. Bau yang menyengat akan masuk kedalam hidung lalu diproses oleh otak lalu otak akan mengeluarkan informasi bahwa bau ini tidak sedapdan sesetengah orang akan merasa mual dan akhirnya menggangu kekusyukan dalam beribadah. Nabi kita juga telah bersabda:

    “Barang siapa yang makan bawang putih atau bawang merah maka hendaklah menjauhi kita”, atau bersabda, “Maka hendaklah dia menjauhi masjid kami dan hendaklah dia duduk di rumahnya”. HR Bukhari dan Muslim dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam Irwaul Gholil no.547
  • Adab bagi wanita 
    Tidak terlarang bagi seorang wanita untuk pergi ke masjid. Namun rumah-rumah mereka lebih baik Jika seorang wanita hendak pergi ke masjid, ada beberapa adab khusus yang perlu diperhatikan: (a) Meminta izin kepada suami atau mahramnya. (b) Tidak menimbulkan fitnah. (c) Menutup aurat secara lengkap. (d) Tidak berhias dan memakai parfum.

  • Perbuatan kaum wanita yang memakai parfum hingga tercium baunya dapat menimbulkan fitnah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, 

    “Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian keluiar menuju masjid, maka tidak akan diterima shalatnya sehingga ia mandi” - HR.Ibnu Majah no 4002 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam shahih Ibni Majah no. 32
  • Dilarang keras meludah dimasjid.
  • Sepertimana Allah karuniakan kita Aql dan fikiran yang Allah juga tidak karuniakan melainkan kepada manusia saja. Maka dari itu sudah seharusnya kita berfikir tentang baik dan buruknya tindakan kita, termasuk juga dalam menjaga kebersihan masjid. 
    Seperti yang kita ketahui menjaga kesehatan badan dan rumah itu penting dan menjaga kebersihan masjid itu juga sangat penting, maka dari itu dilarang keras meludah atau membuang kahak dilantai ataupun di dinding masjid. 
    Lalu kalau meludah di sajadah atau di mukenah milik masjid boleh dong? Tetap tidak. Karena sajadah dan mukenah akan digunakan oleh orang lain, sedangkan bekas kahak dan ludah akan meninggalkan bau yang tidak sedap dan juga bekas yang kotor yang akan mengganggu kenyamanan dalam beribadah. 

    الْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيْئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا
    “Meludah di masjid adalah suatu dosa, dan kafarat (untuk diampuninya) adalah dengan menimbun ludah tersebut”. - Shahih al-Bukhari no 40
  • Larangan melingkar di dalam masjid untuk berkumpul untuk kepentingan dunia
  • Terdapat larangan melingkar di dalam masjid (untuk berkumpul) demi kepentingan dunia semata. Hal ini juga mencakupi urusan jual-beli juga. Sepertiman yang difirmankan oleh nabi Muhammad:
    “Akan datang suatu masa kepada sekelompok orang, di mana mereka melingkar di dalam masjid untuk berkumpul dan mereka tidak mempunyai kepentingan kecuali dunia dan tidak ada bagi kepentingan apapun pada mereka maka janganlah duduk bersama mereka” - HR al-Hakim jilid 4 halaman 359 dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani.
  • Larangan Berteriak Dan Membuat Kegaduh di Masjid
  • Sebab, masjid dibangun bukan untuk ini. Demikian pula mengganggu dengan obrolan yang keras. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    “Ketahuilah bahwa setiap kalian sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Maka dari itu, janganlah sebagian kalian menyakiti yang lain dan janganlah mengeraskan bacaan atas yang lain” - HR Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihal-Jami’
    Apabila mengeraskan bacaan Alquran saja dilarang jika memang mengganggu orang lain yang sedang melakukan ibadah, lantas bagaimana kiranya jika mengganggu dengan suara-suara gaduh yang tidak bermanfaat?! 
    Sungguh, di antara fenomena yang menyedihkan, sebagian orang—terutama anak-anak muda—tidak merasa salah membuat kegaduhan di masjid saat shalat berjamaah sedang berlangsung. Mereka asyik dengan obrolan yang tiada manfaatnya. Terkadang mereka sengaja menunggu imam rukuk, lalu lari tergopoh-gopoh dengan suara gaduh untuk mendapatkan rukuk bersama imam. Untuk yang seperti ini kita masih meragukan sahnya rakaat shalat tersebut karena mereka tidak membaca Al-Fatihah dalam keadaan sebenarnya mereka mampu.
    Tetapi, mereka meninggalkannya dan justru mengganggu saudara-saudaranya yang sedang shalat. Hal ini berbeda dengan kondisi sahabat Abu Bakrah radhiallahu’anhu yang ketika datang untuk shalat bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam didapatkannya beliau Shallallahu’alaihi Wasallam sedang rukuk lalu ia ikut rukuk bersamanya dan itu dianggap rakaat shalat yang sah.
    Lalu bagaimana dengan anak-anak yang berlari-larian didalam masjid, kan sama saja mereka juga tertawa bahkan lebih kuat dari kita?
    Saudara-saudariku, cara kita berfikir dan anak-anak tidak sama. Kalau dalam Psychology ada yang namanya Id, Ego, dan SuperEgo. Id ini mewakili keinginan, Ego ini mewakili hasrat untuk mendapatkan sedangkan SuperEgo ini adalah tentang tata karma atau nilai social lainya.
    Anak-anak kecil mereka hanya mempunya Id dan Ego, mereka belum sampai tingkatan SuperEgo yaitu berfikir tentang orang lain atau baik buruk tindakan mereka, yang mereka tahu hanya bermain dan memenuhi keingintahuan mereka. sedangkan kita para gadis-gadis manis dan bujang-bujang yang menawan tentunya sudah sampai tingkatan berfikir SuperEgo yaitu berfikir tentang tata krama dan nilai social lainya. 
    Jadi mari kita gunakan hadiyah Aql dari Allah dengan sebaik-baiknya dengan menilai positive dan Negativenya perbuatan kita, bermanfaat atau tidak kalau kita tertawa terbahak-bahak dan tidur ditengah-tengah tempat solat.
    Tips untuk menghindari hal ini terjadi :

  1. Ketika kita dengan teman sedang ngobrol di dalam masjid dan sampai ke topic yang menarik, alangkah baiknya kita keluar atau menjauh dari tempat solat atau beribadah seperti duduk di teras masjid.
  2. Mengingatkan teman dengan sopan sebelum ngobrol “eh nanti jangan tertawa kuat-kuat ya, takut ada yang terganggu”.
  3. Ketika membawa nak-anak ke masjid, kompromi dulu dengan anak di rumah atau di mobil “adek kita kan mau beribadah di masjid, jadi nanti tolong jangan lari-lari ya sayang”. 
  4. Ketika sudah merasa mengantuk ketika habis solat atau membaca Al-Qur’an, sebaiknya segera pergi kebagian tepi atau ujung masjid untuk istirahat.
Wallahu'alam

Penulis : Subainah
Read more ...
FOTAR IIUM - Sepanjang Jalan Dakwah