Friday, 24 February 2017

Sebuah Jalan


Gambar:  anneahira.com


 Ada sebuah jalan
panjang jarak tempuhnya
dan juga terjal medannya
Aduhai, jalan apa itu?
Jalan yang tidak ditempuh kaum-kaum terdahulu
Pun kaum nabi nuh, Ibrahim, musa, isa tidak menempuhnya
barulah kita sebagai kaum nabi Muhammad diminta untuk melaluinya
Aduhai, jalan apa itu?
Jalan yang dimana kita tidak diminta untuk sampai ke ujungnya
Akan tetapi hanya diminta untuk mati di atasnya
Aduhai, jalan apa itu?
Ketahuilah wahai saudaraku
Jalan itu adalah
Jalan dakwah.



قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَ مَآ أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (ilmu dan keyakinan). Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [Yusuf:108].

Sungguh jalan ini adalah jalan yang amat panjang. Yang tidak hanya ditempuh dalam hitungan menit, hari, ataupun tahun bahkan milenia. 22 tahun umur beliau setelah bi’tsah nubbuwah hingga akhir hayat beliau, Rasulullah SAW  habiskan disana. Tidak pula dengan terburu buru dalam melaluinya, yang berharap sekarang berdakwah dan keesokannya sudah berhasil. Bukan, dakwah bukanlah seperti itu. Tabarraka rahman, sungguh indah jalan ini. 
Dakwah bukan sekedar berbicara di depan umum, menyampaikan kultum, khutbah, ataupun ceramah. Akan tetapi meliputi berbagai macam aspek dalam hidup kita. Bahkan gerak gerik tubuh kita, aktifitas kita bisa berwujud dakwah jika dilandasi dengan niat yang tepat dan perbuatan yang benar. Janganlah kau anggap yang di depan umum menyampaikan ayat-ayat Allah lebih berdakwah ketimbang panitia konsumsi yang menyiapkan makanan untuk para jamaah. Jangan juga kau mengira bahwasanya yang duduk di shaf awal dalam suatu pengajian lebih berdakwah ketimbang yang dibelakang. Bisa jadi yang duduk-duduk dibelakang malah lebih berdakwah.
Hobi kita pun bisa menjadi dakwah bagi kita. Ada yang bertanya, “hobi saya kan Rihlah/traveling, mana bisa jadi lahan berdakwah” jawabannya, tentu saja bisa. Jadilah seperti burung hud-hud, yang dimana rihlahnya tercatat dalam catatan sejarah sebagai rihlah dakwah. Mengabarkan kepada nabi sulaiman bahwasanya ada suatu negeri yang aman, makmur, sejahtera namun penduduk negeri itu masih menyekutukan Allah dengan menjadikan matahari sebagai sesembahan mereka, yaitu negeri saba’. Jadilah agent agent dakwah dengan menjadi the next Ibnu Batutah. Jelajahi bumi Allah yang luas ini, singgahi berbagai macam negeri-negeri di bumi ini. 
Sampaikanlah barang sepatah dua patah ayat kepada orang-orang yang merindukan cahaya hidayah di dalam hati mereka. Sehingga saya berikrar di dalam hati akan menjelajahi bumi Allah yang luas ini, singgah diberbagai macam negeri, menginjakkan kaki di bermacam benua untuk menyampaikan bahwasanya Allah adalah satu-satunya dzat yang pantas untuk disembah. Bukan sekedar perjalanan untuk liburan saja, akan tetapi ada suatu misi yang diemban untuk dapat disampaikan. Oleh karena itu, para sahabat-sahabat, kakak kelas, maupun adik kelas yang membaca tulisan saya ini mohon doanya agar beberapa tahun kedepan setelah antum-antum membaca tulisan ini, saya Athariq Faisal sudah menjadi seseorang yang dapat menyampaikan barang seayat ataupun dua ayat ilmu di berbagai belahan dunia. Menjadi the next Ibnu Batutah sang penjelajah untuk menyampaikan ayat-ayat Allah.
Betapa banyak barakah yang terdapat dijalan dakwah ini. Status kita sekarang sebagai mahasiswa tidak menghalangi kita untuk berdakwah. Jadilah mahasiswa “KUDA KUDA” Kuliah dakwah, kuliah dakwah. Bukan sekedar mahasiswa “KUPU KUPU” kuliah pulang, kuliah pulang. Bergabunglah disuatu jamaah atau organisasi. Sebab dengan bergabung di salah satu organisasi, apalagi organisasi itu adalah organisasi keislaman dapat menjadikan kita terpacu untuk berkontribusi kepada sesama.
Sibukan diri dengan kegiatan kegiatan positif hingga kita tidak sempat untuk sekedar memikirkan hal-hal yang sia-sia. Juga menjadi sebab mengapa kita harus bergabung di dalam suatu jamaah atau organisasi adalah suatu perkataan yang masyhur dinisbatkan kepada sayyidina Ali rhadiyalahu anhu, yaitu kalimat “Kalau ada kebenaran yang tidak tertata dengan baik, maka dia akan dikalahkan dengan kebatilan yang tertata dengan baik” itu sebab kita harus bergabung di dalam suatu organisasi untuk bersama-sama menyusun suatu program yang jitu yang innovatif untuk mengajak masa sebanyak-banyaknya masa untuk bergabung di program tersebut dan kemudian, kita sisipkan dakwah di dalamnya.
Berdakwah juga memerlukan seni ataupun metode-metode khusus dalam penyampaiannya. Ada sebuah kisah unik, menceritakan tentang seseorang yang ingin masuk islam. Orang itu dituntun untuk bersyahadat oleh petugas kantor keagamaan. dia melafalkan kalimat syahadat dengan terbata-bata karena saking susahnya mengucapkan lafadz arab. “as ngadu.... as ngatu...” sehingga berulang kali petugas itu membetulkannya. Si petugas sangat bersikeras agar si muallaf mengucapkan kalimat syahadat dengan fasyih dan benar. Tidak boleh ada salah sedikitpun. Sehingga hampir 10 menit muallaf itu mati-matian berusaha mengucapkan kalimat syahadat dengan benar. Sang muallaf berkata di dalam hati “masuk islam susah betul ya, baru masuk aja udah disuruh harus ngomong bahasa arab yang fasih”.
Belum sampai disitu penderitaan sang muallaf, sang petugas lalu menanyakan sebuah pertanyaan yang biasa ditanyakan kepada orang yang baru masuk islam. “bapak sudah disunat?, kalau belum pokoknya bapak harus disunat malam ini juga!” lantas si muallaf marah “agama macam apa ini!, tadi saya mati-matian disuruh ngucapin lafadz arab, sekarang saya disuruh sunat. Mending saya ga jadi masuk islam aja deh. Awal-awalnya aja susah, apalagi yang lain.
Jika kita berkaca pada kisah tersebut, siapakah yang patut untuk dipersalahkan? Si muallaf kah yang salah? atau si petugas? Jelas, sikap yang kurang tepat adalah sikap sang petugas dikarenakan kesalahan dalam memilih metode dakwah bagi mad’u. Seharusnya sang petugas memberi kemudahan bagi sang muallaf ketika melafalkan syahadat dengan mentoleransi kesalahan-kesalahan dalam penyebutannya. Dan juga tidak menyuruh sang muallaf untuk langsung disunat.
Berilah kemudahan bagi orang-orang muallaf yang baru saja masuk islam.Tekankan dalam perkara-perkara aqidah terlebih dahulu, ajari sholat secara pelan-pelan, beri kemudahan, beri kelapangan. Belajarlah dari para walisongo yang dengan luar biasanya mampu menjadikan nusantara bermayoritaskan muslim yang sebelumnya bermayoriaskan hindu. Lihat bagaimana metode sunan kalijaga, sunan kudus, sunan ampel, dan sunan-sunan lainnya dalam berdakwah. Betapa jitunya cara mereka dalam berdakwah. Sehingga saya sering bertanya-tanya juga “adakah di zaman sekarang, sebuah organisasi dakwah yang bisa menyamai kualitas dari walisongo?” Betapa luar biasanya mereka, dengan sunan yang berjumlah 9 orang mereka pergi ke penjuru nusantara untuk menyebarkan agama islam dan berhasil.
Coba sekarang ada atau tidak suatu organisasi dakwah yang mampu mengirimkan 9 delegasi mereka ke suatu negeri bilang saja negara jepang untuk berdakwah disana dan dapat mengubah mayoritas penduduk beragama shinto menjadi mayoritas islam dalam kurun waktu tertentu. Semoga kedepannya akan hadir sosok-sosok seperti walisongo yang dengan dakwahnya menyebar rahmah bukan musibah, menyebar kasih bukan perih.
Mari kita bersama-sama untuk selalu menjadikan amalan kita menjadi suatu gerak amal dakwah bagi sesama. Menjadi agent of change, menjadi umat yang selalu menyanding selendang dakwah di bahunya. Dan mudah mudahan di akhir hayat kita, kita tetap berada di atas jalan dakwah ini sehingga kita tercatat sebagai hamba yang berusaha untuk menyebar kebaikan disisi rabbnya, aamiin yarabbal ‘alamiin. Wallahu a’lam bi showaab. 

Penulis: Athariq Faisal

Read more ...

Wednesday, 22 February 2017

Shalat Tahajud, Ibadah Sunnah yang Menakjubkan


Gambar : islamituindah.my



“Kerjakanlah shalat malam, karena shalat malam itu kebiasaan orang-orang yang shaleh sebelum kamu dahulu, juga suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, juga sebagai penebus pada segala kejahatan (dosa) mencegah dosa serta dapat menghindarkan penyakit dari badan”. (HR.Imam Tirmidzi & Ahmad)

Kutipan hadist diatas merupakan satu dari banyaknya hadist yang meriwayatkan tentang shalat tahajud. Dari terjemahan hadist diatas kita bisa merenungi bahwa shalat tahajud merupakan shalat sunnah yang tidak biasa, shalat yang Allah khususkan derajatnya, dan merupakan shalat sunnah yang mempunyai ganjaran lebih dibanding shalat sunnah lainnya. 

Banyak hal yang dapat kita petik manfaatnya dari shalat tahajud, sebagai contoh ketika seseorang ingin belajar di malam hari ia pasti menggunakan waktu sepertiga malamnya agar bisa menyerap pelajaran dengan mudah, di waktu itulah ketika Allah melihat usaha kita dan kita pergunakan waktu tersebut untuk menunaikan shalat dan bermunajat kepada Allah. Inilah mengapa shalat tahajud memiliki ganjaran yang lebih dibanding shalat sunnah lainnya, karna selain mendapat pahala, sebagai penghalang berbuat salah, dan menghindarkan dari penyakit, orang-orang yang menunaikan Shalat tahajud juga termasuk tiga golongan manusia yang dicintai oleh Allah.

Shalat tahajud merupakan ibadah yang menakjubkan.. Dari sisi kesehatan misalnya, menurut Dr. Abdul Hamid Diyab dan Dr. Ah Qurquz mengatakan “shalat malam dapat meningkatkan daya tahan (imunitas) tubuh terhadap berbagai penyakit yang menyerang jantung, otak dan organ-organ tubuh yang lain”, menakjubkan bukan? Itu hanya baru berbicara soal kesehatan, selain itu hadist lain mengatakan “Mengapa orang yang selalu melakukan shalat Tahajud wajahnya lebih indah? Sebab mereka menyendiri bersama Ar-Rahman (Allah), sehingga Allah memberikan kepadanya cahaya-Nya.”[38]. 

Keutamaan lain dari melaksanakan shalat sunnah sepertiga malam ini adalah ibadah yang sangat dicintai Allah, mengapa? Karna selain mendapatkan manfaat yang banyak, shalat ini memiliki kedudukan yang lebih di mata Allah, ketika di hari kiamat kelak orang-orang yang di dunia nya istiqomah melakukan solat tahajud akan mendapat keringanan ketika di hisab, dapat dengan mudah menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim yang dibaratkan seperti halilintar yang menyambar, catatan amalnya diberikan ditangan kanan,dll. 

Selain mendapat ganjaran di hari kiamat kelak, di dunia pun Allah memberikan ganjaran yang tidak biasa, seperti dipelihara oleh Allah SWT dari segala mara bahaya, akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh semua manusia, lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah, dan masih banyak lagi.

Shalat tahajud merupakan shalat sunnah yang ‘wajib’ dikerjakan bagi umat Islam, terutama untuk pemuda-pemudi di zaman sekarang ini. Kebutuhan rohani seseorang tidak akan terpenuhi jika tidak diimbangi dengan amalan-amalan sunnah yang mungkin menurut kita hanya mendapat ganjaran yang kecil namun mendapat pahala yang tak disangka-sangka. Shalat tahajud inilah salah satu shalat sunnah yang apabila kita kerjakan mendapat banyak kebaikan dan jika tidak dikerjakan akan merasa merugi. Wallahu a’lam.


Penulis : Nasya

Read more ...

Sunday, 19 February 2017

Menghidupkan Sunnah, Memperkuat Ukhuwah

Rihlah sahabat Forum Tarbiyah di Botanical Garden, Shah Alam

“ Kak sering-sering aja ada rihlah gini “ tegur fulanah 
“ kenapa emang dek? “ jawab ku 
“ Jadi bersyukur aja dikasih Allah SWT teman, kakak dan abang yang ketjeh, saling mengingatkan akan kebaikan itu penting loh kak “ curhatnya 
“ iya dek, I feel you “ (sambil nostalgia )

                                                      ***

Sabtu, 18 Februari 2017 sejarah tercatat kembali. Acara tahunan Fotar ( Forum Tarbiyah ) yang bertujuan sebagai wadah silaturrahim keluarga fotar lintas generasi, dapat mempererat ukhuwah islamiyah keluarga fotar, juga merekrut kekeluargaan baru. 

Pukul 8.20 pagi, peserta yang berjumlah 90 orang serta 26 panitia bergegas menuju tempat tujuan rihlah. Lagi-lagi pagi kami disambut oleh ribuan burung yang berkicau. Rihlah yang mengambil tema, “Menghidupkan Sunnah, Memperkuat Ukhuwah” ini berlangsung di Botanical Garden, Shah Alam. 

Dimulai dengan bacaan basmallah yang dipandu oleh kawan kita Thariq, agar acara rihlah ini kondusif serta tercapainya tujuan-tujuan rihlah tersebut. 

Game indoor untuk pemanasan pun terlihat seru, dilanjutkan dengan game outdoor yang tak kalah meriah. Wajah puas memecahkan soal-soal terpancar jelas meski terik matahari tidak bersahabat. Mahsiswa-mahasiswi Postgraduate adalah bintangnya game untuk hari ini. 

Selanjutnya kami dibagi kelompok untuk bergabung bersama para murobbi dan murobbiyah, nasihat untuk kembali meluruskan niat “ apa urgensi halaqoh “ itu.

Pukul 5 sore tiba dimana untuk kembali mendengarkan taujih singkat yang disampaikan oleh Ustad Azzam, alumni Universitas Islam Madinah ini menceritakan kembali kisah para ashabul kahfi, juga beberapa syafa’at bagi orang-orang yang “sengaja” menempatkan dirinya dikalangan orang-orang yang sholeh. Kembali beliau me-reminder bahwa betapa malunya kita ketika berada dikalangan sahabat sholeh tapi tak kunjung megikuti amalan sholehnya. 

*Cukup deep nasihat beliau*

Nampaknya matahari mulai terbenam dan kami pun bersiap untuk penutupan sekaligus persiapan  untuk bertolak ke kampus kami tercinta, IIUM. 

Kami sadar ya Rabb, apa yang kami idekan untuk acara ini semata-mata mengharap ridho dari-Mu, mudahkanlah langkah kami kedepannya untuk mencari dan terus mencari ilmu. 

RIHLAH FOTAR 2017.....
ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR 



                                                                 Shah Alam, 18 Februari 2017

Read more ...

Friday, 17 February 2017

Surga Ada di Rumahmu


Gambar : colormywords.wordpress.com

Belakangan ini, banyak kita temui kejadian-kejadian memilukan antara orang tua dan anak. Dimana seorang anak tega menendang ibunya lantaran tidak dikabulkan keinginannya. Ada seorang anak yang tega berkata " Dasar orang tua tidak bisa diandalkan," hanya karna tak terpenuhi keinginan untuk membeli gadget baru.

Kondisi seperti ini membuat hati seperti tertusuk ribuan pedang sayyidina 'Ali yang begitu tajam. Tidakkah anak-anak ini mengetahui bahwa, jika bukan karna doa orang tua, mungkin berapa ribu azab sudah Allah turunkan karna perilaku mereka. Tidakkah mereka tau, berapa tetes air mata yang tumpah lantara do’a untuk keselamatan, kebaikan dan kesuksesan anaknya. Tidak sadarkah mereka, berapa ribu kali ibu dan ayahnya terjatuh dan merasakan sakit hanya untuk mencari sepuluh ribu rupiah demi sepotong ayam untuk anaknya.

Entah apa yang ada di pikiran mereka, begitu tega dan berani berlaku kasar kepada ibu dan ayahnya. Tahukah mereka? Bahwa kebaikan 1000 kali akan sirna hanya dengan sekali bentakan terhadap orang tua.

Untuk sahabat yang saya sayangi, yang sempat berlaku tidak baik kepada orang tua, yang sempat tidak menghargai jerih payah dan air mata mereka, yang sempat bermuka masam tanpa berpikir betapa letihnya mereka atau sempat lupa untuk sekedar bertanya kabar kedua orang tua, marilah mulai saat dan detik ini kita sama-sama belajar. Belajar untuk terus berbakti pada orangtua. Belajar dari sejarah para ulama, bagaimana cara mereka mencintai ibu dan ayahnya, hingga Allah janjikan kepadanya Syurga tanpa syarat.

Lihatlah apa yang dilakukan seorang sahabat nabi bernama Usamah bin Zaid, yang rela membeli pohon kurma seharga seribu dinar kemudian menghancurkannya demi mengambil bagian putih yang ada di dalamnya untuk diberikan kepada ibunya. Di saat pohon mahal ini dihancurkan, Usamah bin Zaid ditanya, " untuk apa kamu menghancurkan pohon semahal ini hanya untuk mengambil sebagianya saja?" Kemudian beliau jawab, " Sesungguhnya ibuku menginginkanya. Dan apapun yang ibuku mau, dengan segala kemampuanku aku akan mengabulkannya".

Dimana posisi kita wahai sahabat? Dimana kadar kecintaan kita terhadap kedua orang tua? Relakah kita melakukakan apapun yang mereka minta sebagaimana yang dilakukan oleh seorang Sayyidina Usaman bin Zaid? Relakah melimpahnya harta kita, dihabiskan hanya untuk keinginan sang ayah bunda?

Lihat juga apa yang dilakukan seorang ulama besar bernama Hayyuyah ibn Syarih. Di saat dia sedang mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya. Di saat itu juga tiba-tiba sang ibu memanggilnya, " Wahai Hayyuyah, tolong sembelihkan ayam untukku." Kata sang ibu. Seketika itu juga, dihentikanlah pelajaran, dan beliau tunaikan perintah sang bunda.

Dimana posisi kita dari Imam Hayyuyah, dimana derajat kita dari Imam Hayyuah. Sekalipun beliau dihormati karna keilmuanya, beliau tetaplah seorang anak. Yang jika di panggil ibundanya, disambut dan ditinggalkan apapun demi mematuhinya. Lantas kita? Apa yang sudah kita perbuat kepada kedua orang tua, sudahkan menyambut panggilannya? 

Lihat juga apa yang dilakukan oleh Uwais Al-Qarni terhadap ibunya. Yang rela menggendong sang ibu dari Yaman menuju Makkah hanya demi mengabulkan keinginan ibunda untuk berhaji. Tanpa kendaraan dan semua dilakukan dengan berjalan kaki. 
Dari semua contoh mulia ini, dimanakah posisi kita saat ini? 

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَأَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا
Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya  kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sakali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkatan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (Q.S. Al Isra' : 23)

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا    
Artinya : "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (Q.S. Al Isra' : 24)

Mudah-mudahan kita semua dapat terus dilimpahkan Hidayah, Ilmu dan ampunanNya sehingga kita dapat menjadi anak yang sempurna mencintai kedua orang tua , serta menjadi sebab masuknya orangtua kita ke jannahNya...Aamiin aamiin yaaRabbal ‘alamin.
Wallahu A'lam.

Penulis : Nabila Gita Forenza


Read more ...

Thursday, 16 February 2017

Muslimah Produktif Kunci Menjadi Arsitek Peradaban

                          Oki Setiana Dewi berbagi pengalamannya

Kuala Lumpur, 12 Februari 2017, Seminar Muslimah bertemakan "Muslimah Produktif Kunci Menjadi Arsitek Peradaban" yang diadakan oleh Divisi An-nisa Forum Tarbiyah berlangsung ramai dan sukses. Acara yang bertempat di Aikol IIUM ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta dari Indonesia dan Malaysia.

Tepat pukul 11.30 tempat duduk peserta sudah memenuhi setengah ruangan, beserta 2 narasumber yang sudah hadir dan menempati tempat duduknya. Sesi pertama dibuka oleh moderator yang juga mahasiswi aktif di IIUM, Fadhilah Asaadah. Dilanjutkan dengan narasumber pertama yaitu Farah Nabila, mahasiswi yang baru saja lulus dari jurusan psychology di IIUM ini punya segudang prestasi yang diraihnya ketika masih duduk di strata 1, salah satunya menjadi "Dean's list in all previous semester". Tidak hanya berprestasi dalam bidang akademik, mahasisiwi ini juga aktif di berbagai kegiatan sosial yang menurutnya hal ini penting dilakukan di saat masih kuliah sebagai platform terbaik untuk aktif dan berkontribusi, juga sarana untuk membina diri sebelum kita menjejaki kehidupan selanjutnya seperti kehidupan berumah tangga.

Selain itu, narasumber kedua yang melanjutkan master nya di IIUM ini bernama Yekti Mahanani. Alumni IPB ini tidak kalah aktif ketika masa degree nya, diundang ke berbagai negara seperti Turki, Korea, dan Mesir karna prestasinya dibidang non-akademik, menurutnya seseorang yang sibuk belum tentu produktif, apa yang didepan mata dikerjakan dan dimaksimalkan, yang penting kontribusinya bisa bermanfaat bagi orang lain.

Sesi pertama diakhiri dengan hiburan dari Sanggar Khatulistiwa dan pembacaan puisi oleh Fitria Malafeni. Sesi pertama selesai, peserta yang hadir semakin bertambah, tempat duduk peserta hampir memenuhi ruangan. Sesi kedua merupakan sesi paling utama dan paling ditunggu oleh para peserta, karna hadirnya Oki Setiana Dewi yaitu ustadzah, penulis, aktris dan pemain utama film "Ketika Cinta Bertasbih I" sebagai narasumber ketiga.

Sesi kedua dibuka oleh moderator yang sedang melanjutkan PhD nya di IIUM, Fitri Amry . Selanjutnya Oki Setiana Dewi membuka sesi pembicaraan dengan berbagi cerita ketika ia masih sibuk syuting di film Ketika Cinta Bertasbih sambil tetap kuliah, beliau membagi waktunya dengan baik sehingga saat bersamaan dapat meraih nilai tertinggi ketika ujian, kuncinya adalah jangan menyia-nyiakan waktu luang, tutur beliau. Oki Setiana Dewi banyak bercerita tentang kehidupan sehari-hari nya, dari mulai bangun pagi sampai larut malam.

Oki yang pernah berencana mengambil kuliah S3 di IIUM ini juga sangat antusias ketika menceritakan impian-impian nya kelak, katanya "saya ingin anak-anak saya menjadi hafiz dan hafizhah" dan beliau berkata "karna PR sepanjang masa adalah belajar dan menghafalkan Al-Qur'an, semoga kita bisa sukses di dunia, terkenal di penduduk dunia dan insyaAllah terkenal di penduduk langit, itu jauh lebih berharga".

Read more ...

Friday, 10 February 2017

Ingat Mati

Gambar : satubahasa.com

Pernahkah kamu merasakan bahwa ajalmu hampir datang? Atau mungkin di suatu saat kamu menerka-nerka bahwa di sekitarmu terdapat malaikat Izrail yang siap mencabut nyawamu? Tidak ada satupun manusia yang mengetahui ujung hayatnya. Tidak ada satupun manusia yang dapat meramal kematian dirinya, temannya ataupun keluarganya. Nasib seseorang sudah terdapat pada lauhul mahfuz yang merupakan catatan hidup manusia mulai dari lahir sampai mati. 

Cerita ini merupakan sebuah throwback dari seorang gadis kecil yang sedang menikmati sisa liburannya ke Singapura, sebut saja Lin Li. Peristiwa yang terjadi beberapa tahun lepas ini termasuk salah satu yang masih bisa diingat jelas olehnya, masih jernih terekam dalam memori otak layaknya kejadian yang baru dialami 3 hari yang lalu. Peristiwa tersebut bukanlah moment yang cukup indah untuk di-rewind oleh seorang gadis kecil, bukan momen bahagia ketika jalan-jalan, bukan shopping ataupun mencicipi kuliner khas negara Merlion, melainkan moment ketika ia masih diantara awan-awan yakni di dalam pesawat terbang. 

Penerbangan dari Jakarta menuju Singapura hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Akan tetapi, qadarullah pada saat itu ia terpaksa harus ‘menikmati’ perjalanan di udara lebih dari 2 jam. Kata orang, naik pesawat bukanlah hal yang menakutkan dan sulit, kamu check-in, melewati imigrasi, tunggu di waiting room, masuk pesawat, duduk dengan tenang lalu beberapa jam kemudian kamu sampai di destinasi yang kamu inginkan. Jangan takut, karena dengan canggihnya teknologi dan keahlian sang pilot, kamu akan selamat. Mereka petugas kabin akan melayani kebutuhanmu dengan sepenuh hati dan juga memastikan keamanan dan kenyamanan penumpang. Tapi, benarkah keselamatanmu akan terjamin?

Lin Li duduk diantara ketiga saudaranya. Ia menatap kaca jendela yang kini berlatar awan putih bertebaran dalam jumlah kecil bagaikan kumpulan kapas tipis yang lembut. Ketika dewasa Lin Li tahu bahwa awan tersebut mempunyai nama yaitu Alto-Kumulus. Dalam benaknya ia sudah tidak sabar lagi menapakkan kakinya di negara asing untuk pertama kalinya tanpa orang tua. Bintik-bintik air mulai terlihat di kaca jendela sebelahnya. Cuaca hari itu memang sedang tidak bersahabat sejak ia berangkat ke bandara tadi pagi “Oh, hujan…” kelopak mata Lin Li mulai terasa berat, ia pun mulai memejamkan matanya. Selang beberapa lama kemudian, masih setengah sadar ia mendengar announcement dari awak kabin tentang cuaca diluar yang semakin memburuk ditambah hujan yang sepertinya bukan hanya rintik-rintik lagi. Sudah hampir 2 jam tetapi pesawat belum landing. Seharusnya ia sudah sampai di Changi Airport dan dapat menghirup udara kota Singapura. 

Cahaya matahari mulai meredup, langit berangsur-angsur menjadi kelabu. Bentuk awan pun menjadi tidak menentu dan berubah warna putih kegelapan. Seketika Lin Li merasakan pesawat yang ditumpangi mulai sedikit goyang, penumpang lainnya juga mulai terlihat resah. Yang sebelumnya di dalam pesawat itu hening dan hanya ada beberapa suara anak kecil, sekarang terdengar percakapan yang menandakan “kecemasan” mereka. Berkali-kali awak kabin berusaha untuk menenangkan penumpang yang tampaknya sudah mulai tidak bisa tenang. Bagaimana tidak, goncangan pesawat itu datang lagi lebih keras membuat salah satu penumpang berteriak terperanjat dan terdengar pula tangisan anak bayi. Entah tangisan haus, lapar atau mungkin kaget. Rasa sedikit takut mulai menyergapi Lin Li, ia menarik jaketnya dan berusaha tenang. Ia melihat ke arah penumpang lainnya. Ada seorang ibu memeluk anaknya erat-erat yang duduk di sebelahnya, ada kakek tua yang tengah berdoa kepada Tuhannya dan ada pula anak muda yang masih tertidur sambil menggunakan headset.

Lin Li merasakan sesuatu yang menggengam pergelangan tangannya dengan kuat hingga memerah. Ia mendongak melihat seorang yang dikenal memejamkan matanya dan mulutnya berkomat-kamit melafalkan Astaghfirullah, Allahu akbar, laa ilaha illallah. Sebenarnya ia ingin berbisik “Teh, tanganku sakit…” tapi rasanya ini bukan saat yang tepat, semua penumpang memang sedang ketakutan karena goncangan pesawat itu tidak berhenti bahkan bertambah kuat. Berat pesawat seakan-akan menjadi seperti kapas yang mudah diterpa angin. “Inikah yang dinamakan turbulence?” Lin Li sudah pernah mengalami turbulence sebelumnya tetapi tidak sehebat ini. Lalu terbesit dalam pikiran Lin Li hal-hal yang menyeramkan seperti… akankah pesawat ini jatuh? Ya, penumpang bakal kehilangan nyawanya termasuk dirinya. Kemungkinan nyawa mereka masih selamat sangatlah kecil jika pesawat tersebut benar-benar jatuh dari ketinggian entah berapa kaki saat itu. Pilot dan awak kabin pun tidak bisa menyelamatkan semua nyawa penumpangnya. 

Beberapa saat kemudian, kembali pesawat tersebut bergoyang tidak beraturan dan tidak berhenti. Suara gemuruh terdengar bercampur dengan suara penumpang yang mulai bising. Situasi di dalam pesawat semakin genting dan hati kecil Lin Li pun semakin gelisah. Seribu pertanyaan pun muncul di kepalanya. Jadi, inikah detik-detik ajalku? Inikah saatnya malaikat maut mencabut nyawaku? Inikah saatnya aku menghadap kepadaNya? Apa yang terjadi setelah ini? Nanti aku pergi kemana? Sama siapa? Apa yang akan aku laporkan nanti padaNya? Aku masih muda.. Masih ingin berbuat hal-hal besar. Masih ingin membalas budi orang tua. Bayangan wajah kedua orang tuanya menghampiri Lin Li, ia tidak sempat meminta maaf sebelum pergi tadi. Lalu ia ingat Allah. Sungguh ia merasa dirinya sangat lemah. Tidak ada kata lain kecuali beristighfar dan memohon pertolongan kepadaNya. Jika memang sudah ditakdirkan maut menjemputnya sekarang, ikhlaskan hati ini ya Allah, gumamnya. Lin Li pasrah, ia gantungkan segalanya kepada Allah. Laa hawla wa laa quwata illa billah.. 

Setelah sekian lamanya turbulence, kondisi pesawat mulai kembali sedikit tenang, goyangan sudah tidak terasa lagi sampai akhirnya tiba di Singapura. Hal yang sedikit lucu ialah ketika melihat penumpang berbondong-bondong antri menunggu giliran ke toilet kecil di pesawat setelah kejadian tersebut. Lin Li menghela nafas, Allah masih melindungi mereka. Mungkin kejadian barusan hanyalah sebuah ujian kecil. Bisa juga diartikan sebagai peringatan bahwa sesungguhnya kematian selalu mengintai kita. Apakah kita sudah siap menghadapi maut? Mudah saja bagi pemilik semesta ini untuk mencabut nyawa makhlukNya. Sadarlah, bahwa ajal tidak mengenal tua atau muda. Ajal tidak mengenal apakah seseorang dalam keadaan yang terbaik dalam iman dan islamnya atau malah sebaliknya (naudzubillah). Ajal tidak mengenal tempat, waktu dan kondisi seseorang. Maka berbuat baiklah selalu (fastabiqul khairat) dan jangan sekali-kali berpikir untuk mencoba hal-hal yang diharamkan hanya karena “belum datang kiamat”. Ayah Lin Li selalu berkata: “Orang yang cerdas itu ialah yang selalu ingat pada kematian”. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang khusnul khotimah, mengakhiri hidup ini dibawah naungan Islam dan hati yang selalu berdizikir mengingatNya.

Penulis : Farnaz Unsil Habieb

Read more ...
FOTAR IIUM - Sepanjang Jalan Dakwah