Thursday, 8 December 2016

Muslim Seperti Apakah Kita?



Saudara ku sekalian, zaman kini sudah berubah dan tantangan pun semakin berat. Salah satu tantangan bagi kita seorang muslim di zaman ini adalah menjaga identitas kita yang boleh dibilang sudah hampir hangus ditelan zaman. Mau tidak mau kita yang sudah bersyahadat memiliki tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan Rasulullah Muhammad SAW. Apakah dengan kita menjadi seorang muslim, akankah orang lain yakin bahwa kita benar-benar seorang muslim? Apa sih identitas kita sebagai seorang muslim? Ya. Jawaban yang paling sederhana adalah akhlakul karimah.

Bukankah Rasulullah Muhammad SAW sudah mengajarkan kita bagaimana berperilaku yang baik, yaitu berusaha memiliki akhlaqul karimah. Wahai umat, kemana akhlak- akhlak para Rasul dan para sahabat serta orang-orang soleh? Kemana sikap saling tolong menolong dan mengucapkan salam sesama muslim ? Kemana senyum-senyum dan husnudzan yang semestinya dipupuk setiap saat. Bukankah Rasulullah mengkhawatirkan kalian di penghujung hidupnya?

Seakan-akan saat ini identitas itu terasa asing bagi kita. Padahal setiap kita adalah Da’i untuk agama kita. Da’wah bukan hanya tugas para ustad dan ulama namun ini tugas kita bersama.

Satu kalimat yang mungkin merepresentasikan keadaan kita saat ini yaitu seperti apa yang dikatakan oleh Sayyid Muhammad al-Naquib bin Ali al-Attas “The Loss of Adab”. Dimana adab-adab yang semestinya kita jaga dan kita pupuk telah hilang dan tergantikan oleh derasnya arus mode zaman ini.

Maka dari itu penulis ingin mengajak kepada saudara-saudara semua agar berusaha untuk selalu istiqomah dalam kebaikan. Berusahalah untuk berbuat kebaikan walaupun kita belum sepenuhnya baik, Berkatalah yang baik-baik walaupun lisan kita masih kaku mengatakannya, dan Saling nasihat menasihati lah walau diri ini masih berusaha memperbaiki diri.

Dengan begitu ukhuwah kita akan terbangun sehingga akhlak yang sudah Rasulullah SAW ajarkan tersebar keseluruh muslim sehingga ini menjadi identitas kita sebagai seorang muslim.

(13)إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

 (14)اُولَئِكَ أصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (13) Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (14) [QS. Al Ahqaf: 13- 14]

Pada akhirnya, jika diri kita disibukan dengan kebaikan maka layak kah kita menjadi seorang Da’i yang tidak perlu harus berbicara banyak tapi akhlaknya sudah menjelaskan apa itu Islam dan siapakah itu Muslim?? Wallahua'lam.

Penulis : Abdullah Faqots
Read more ...

Friday, 2 December 2016

Menjadi Lebih Beradab


sumber: kabarmakkah.com
Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus, Dia lah sang pencipta yang mempunyai 99 asma wa sifat, al mufid ala makhluqot .  Urgensi dalam mengenal Allah mungkin telah mahir namun sayangnya adab kepada-Nya belum banyak terintropeksi.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Tidak ada satu pun raja di muka bumi ini yang meskipun sekuat Luffy, sehebat Kenshiro dan setenar Superman yang siaga untuk mendengarkan keluh kesah yang tak berujung oleh rakyatnya selama 24 jam penuh, kecuali Allah. 

Allah SWT memerintahkan sholat disetiap sudut waktu untuk mendengar semua ratapan kehidupan  yang sementara. Bahkan untuk meminta semua perkara dunia, ada waktu mustajab untuk berdoa kepada-Nya.

Tapi acap kali kita melupakan adab. Straight to the point dengan setumpuk masalah dan pengharapan tapi ketika beribadah, menutup mulut yang menguap saja tidak bisa. Pantaskah ? Beradabkah? Tentu hal seperti itu tidak akan mengeluarkan kita dari akidah, hanya saja yang sangat disayangkan adalah ketika malah seorang dosen yang berbicara kepada kita, rasa kantuk dan ingin menguap-pun mati-matian kita musnahkan seketika, bahkan posisi tegap bak perwira rela kita lakukan.

Tidakkah jiwa ini terkepul oleh rasa malu? Bukankah kita mencintai-Nya walau tanpa pertemuan dengan-Nya ? 

Ya Allah hamba mau kaya, ya Allah hamba mau “dia” menjadi milik hamba ya Allah,  ya Allah dan ya Allah. 

Kalimat pengagunganlah yang seharusnya menjadi awal dari setiap bait doa. Ucapkanlah pujian kepada Allah SWT dengan minimal mengucap “Alhamdulillahirobbilalamin”, kemudian bersholawat kepada Rasulullah, lanjutkan dengan asmaul husna dengan santun dan penuh kerendahan diri.

Setelah itu tuangkan semua perkara yang menyelimuti pikiranmu. Lalu, pelajari waktu-waktu mustajab berdoa agar dosa yang kita perbuat, perlahan terkikis oleh pengampunan dari Dzat yang maha Pengampun. 

Penulis: Afifah Dinar
Read more ...

Wednesday, 30 November 2016

Pengabdian Seorang Guru

Menjadi guru adalah mengabdi. Gambar : ibtimes.co.uk
Pada zaman kontemporer ini profesi sebagai seorang guru menjadi sorotan tiap mata masyarakat, pandangan publik terhadapnya merupakan ujung tombak pendidikan. Oleh karena itu, dilihat baik atau buruknya kualitas sebuah negeri selalu disangkut pautkan dengan kualitas para guru nya.

Secara formal, guru adalah mereka yang secara resmi di angkat oleh pemerintah dan diberikan tanggung jawab dengan tugas yang diberikan dari lembaga dalam durasi tertentu. Akan tetapi, secara penerapan yang nyata setiap orang akan merasakan menjadi guru, mengajar dan membimbing sesama, baik kepada anak, teman ataupun keluarga. Ketika mereka dengan ikhlas berbagi ilmu yang didapatkan dari berbagai pengalaman, maka secara analogi mereka boleh dikatakan sebagai guru.

Perjalanan sejarah dari zaman klasik hingga modern ini tampak sebuah variasi dari sebuah karir sebagai guru. Ada yang dari bawah hingga bangkit ke atas layaknya sebuah jabatan yang meningkat dengan posisi yang mengejutkan. Seperti wakil rakyat, pimpinan daerah, dan sebagainya . Adapun yang memiliki orientasi untuk berkreasi diajang akademik memegang prinsipnya sebagai seorang yang intelek dalam pengajaran dan adapun tidak sedikit dari mereka yang dilepas ke luar negri untuk mengembangkan pendidikanya.

Sayangnya, di ranah nyata ini,  banyak dari mereka (para guru) masih mengalami berbagai kendala dalam mengembangkan diri dan lalai akan keinginan dan tujuan awalnya sebagai seorang guru. Layak terbayar oleh gaji dan memandang segala sesuatu dari segi materi dan bukan amanat yang harus ditunaikan karena Allah Swt. Sehingga memandang segala sesuatu dengan berbagai tekanan dan hal yang merepotkan, mengajar dengan perasaan terpaksa hanya untuk menutupi keadaan ekonominya dan menunggu tunjangan tercairkan.

Faktor pada nominal gaji bukanlah satu dari kendala seorang guru yang berpengaruh terhadap kinerja yang profesional.  Banyak sekali yang mempengaruhi sikap pandangan untuk maju seperti rasa pengabdian, kesejahteraan, kecintaan terhadap profesi, kebiasaan melakukan refleksi diri, hingga semangat yang tetap terjaga dalam menuntut ilmu sepanjang hidupnya. Hal ini akan mempengaruhi kualitas cara dan bagaimana kinerja seseorang guru.

Banyak definisi yang telah dirumuskan oleh para ahli mengenai apa itu ‘guru’. Salah satunya ialah pendapat Suparlan, 2005: 12 yang menyebutkan bahwa guru adalah orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual, emosional, fisikal, intelektual, maupun aspek-aspek lainnya.

Tugas penting dan tidak ringan tersebut umumnya kita dapati di lapangan, telah dilakukan guru dengan penuh perasaan cinta, tanggung jawab, dan keikhlasan. Mereka melakukan pekerjaannya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Guru melakukannya tanpa paksaan dan tanpa tekanan maupun rasa ketakutan. Apabila ada seorang guru yang melakukan tugasnya bukan karena rasa pengabdian tetapi karena keterpaksaan atau karena tekanan rasa ketakutan, maka guru itu sesungguhnya bukanlah seorang ‘guru’. Ia tidak akan dapat memberikan kontribusi bagi tujuan mulia pendidikan, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Seringkali, pengabdian seorang guru bukanlah hal yang mudah dilakukan. Pengabdian seorang guru bahkan kadang-kadang harus diikuti dengan pengorbanan besar. Banyak guru yang mengabdi di tempat-tempat yang terpencil: jauh di puncak-puncak pegunungan, di pulau-pulau kecil di tengah lautan, hingga diantara masyarakat yang masih terasing dari peradaban modern. Banyak guru yang mengabdi di daerah-daerah rawan konflik yang tentu saja dapat membahayakan keselamatan jiwanya dan keluarganya. Acapkali pula demi pengabdiannya, banyak guru terpisah jauh dari keluarga karena harus tinggal di daerah-daerah yang sarana transportasi dan komunikasinya masih sangat sulit dan minim. Banyak guru yang mengabdi tanpa terlalu memperhitungkan besaran gaji yang akan mereka terima. Kita tahu, masih banyak guru-guru non-PNS yang gajinya bahkan sangat jauh di bawah UMR (Upah Minimum Regional) buruh.

Lalu, jika pilihan hidup untuk mengabdi sebagai seorang guru bukanlah jalan yang mudah dan mulus untuk dilalui, mengapa hingga sekarang masih banyak orang-orang yang melakukannya? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus kembali memahami makna sebuah pengabdian. Pilihan hidup menjadi seorang guru apabila dilakukan dengan tulus ikhlas dan dengan rasa cinta, maka akan membawa seseorang kepada kebahagiaan yang tentu tidak dapat dinilai dengan materi. Inilah modal terbesar yang akan membawa seseorang pada kesuksesan dalam menjalani profesi sebagai seorang guru yaitu sebuah pengabdian.

Penulis : Ridho Ardiansyah
Read more ...

Saturday, 26 November 2016

Sudahkah Perbankan Syari'ah Sempurna?

Ah, paling-paling namanya saja syari'ah. Benarkah?
Ketika mendengar kata “bank syari'ah” maka orang-orang akan berpikir “Wah, Alhamdulillah sudah ada sistem perbankan yang dipraktekkan mengikuti syari'ah” atau “Ah, paling-paling sama saja dengan bank konvensional, hanya namanya saja syari'ah dan segalanya dimulai dengan bismillah” malah ada juga yg berfikir “Mau ada riba atau engga, gue pokoknya pake yang murah aja”.

Memang, sampai saat ini perbankan syari'ah sendiri belum mencapai kata “sempurna”. Sempurna disini berarti sudah sesuai dengan semua ketentuan syari'ah. Tetapi pengkajian akan hal ini masih terus dilakukan demi terciptanya sebuah sistem yang sesuai. Bukanlah mudah untuk membuat sebuah sistem yang berdasarkan pada syariah ketika sistem konvensional sudah sangat mengakar. Dalam sebuah negara, sistem perbankan berada di dalam sistem keuangan, baik itu perbankan syariah atau bukan, dan pemerintahlah yang mengatur sistem ini melalui bank sentralnya. Maka ketika tidak ada keseriusan dari pemerintah untuk mengubah sistem perbankan menjadi sejalan dengan syariah, akan berat juga mengimplementasikan hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh para cendekiawan. Sebab, pada akhirnya pemerintahlah yang mengendalikan dan membuat keputusan. 

Dengan tidak adanya komitmen dari pemerintah, para penduduknya pun pada akhirnya menjadi skeptis terhadap sistem perbankan syari'ah yang sedang dalam perkembangan ini. Banyak keraguan terhadap produk-produk bank syari'ah yang dianggap masih kurang sesuai dengan istilah syari'ah itu sendiri dan banyak pula yang merasa bahwa kemudahan yang didapat dari menggunakan bank konvensional melebihi bank syari'ah. Tetapi, yang perlu kita ingat disini adalah berurusan dengan riba adalah sesuatu yang haram dan sudah sangat jelas larangannya tertera dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ 
فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum di pungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan, jika kamu bertobat dari pengambilan riba) maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”(al-Baqarah: 278-279).

Yang ingin saya tekankan disini adalah, Allah dan Rasulullah akan memerangi siapa saja yang mencampur hartanya dengan harta riba. Coba kita bayangkan, bagaimana kalau kita sampai diperangi oleh Allah dan Rasulullah… Nauzubillah min zalik. Semoga kita selalu mendapat petunjuk dari Allah.

Rasulullah pun pernah menekankan sendiri mengenai riba ini, Rasulullah bersabda bahwa: “Allah melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan dengannya, kedua saksinya, dan penulisnya, lalu beliau bersabda, “mereka semua itu adalah sama". (HR. Muslim)

Sudah jelas bahwa semua orang yang memiliki keterkaitan dengan praktek riba akan dilaknat oleh Allah SWT. Maka dari itu, mari, kita semua berusaha untuk menjauhkan diri dari segala praktek riba. Memang, sistem perbankan syari'ah belum sempurna, belum dapat sepenuhnya sesuai dengan syari'ah dan masih banyak yang harus diperbaiki. Tapi setidaknya kita telah berusaha untuk terhindar dari praktek riba, bukankah usaha kitalah yang bernilai dimata Allah SWT? 

Dan kalau memang masih banyak keraguan, mari kita sama-sama berusaha untuk membuat sistem perbankan syari'ah menjadi lebih baik lagi, terlebih kepada para pemuda muslim, pemuda harapan bangsa, mari kita buktikan bahwa ajaran Islam tidaklah mempersulit hidup, tetapi memudahkan dan juga memiliki tujuan untuk menguntungkan semua pihak. Tidak seperti sistem kapitalis yang hanya berpihak kepada mereka yang memiliki harta yang paling banyak. Siapa yang memiliki harta yang paling banyak, maka dialah yang akan menerima lebih banyak lagi harta, iya, itulah sistem kapitalis yang sudah mengakar didunia ini.

Ayo, kita ubah dunia ini agar menjadi tempat yang lebih indah untuk kita tinggali sementara sebelum kita tinggalkan.

Penulis: Yusuf Ali
Read more ...

Wednesday, 23 November 2016

Kembalilah...

Kembalilah...
Saat ini rasanya “kembalilah” adalah ekspresi yang tepat untuk bangsa Muslim nusantara. Bukan kalian yang berada di tanah air ini, namun diperuntukkan bagi kalian yang melihat negeri ini dari luar kaca aquarium. Kami disini ikut menyelam, ikut merasakan bagaimana ikan hidup di air, berenang, dan mencari makan. Bagi diri saya, dahulu kala ketika berada di negeri lain membuat saya pilu hanya bisa menerima informasi dan berita apapun yang terjadi di tanah air dari luar kaca saja. Kali ini betul-betul membuat diri menelan dan meresapi hikmah dalam kehidupan ini, membuat diri tidak boleh pergi dan tetap disini untuk negeri ini. Demi dakwah yang sangat luas di negeri ini dan demi persatuan Indonesia yang menjadi landasan kita untuk bersatu dan tidak berpecah belah.

Dengan memahami bahwa disini adalah tempat yang layak untuk kita hidup disamping permasalahan bangsa yang sangat rumit. Dan harus bisa dan memang seharusnya merasa bahagia dan tersenyum ikhlas menjalani hidup di ibu kota yang ‘macet’ dan ‘banjir’ maupun kalian yang hidup tersebar di seluruh negeri dengan menghadapi tantangan yang berbeda-beda, harusnya merasa yakin untuk tetap berada bersama mereka yang menginginkan nasib yang sama untuk menuntut ilmu, mengikuti setiap perkembangan di dalam negeri, berusaha melihat dari sudut pandang positif terhadap keadaan yang tidak sama seperti kita hidup di luar aquarium, tetap terikat dengan keberadaan diri untuk tetap disini bersama memperjuangkan nasib bangsa, dan selalu berfikir keras di setiap hari ketika bangun dari tidur untuk mempelajari apa yang harus diperbaiki dan dilakukan untuk negeri dari Sabang sampai Merauke.

Berada di tanah air ini membuat mata terbuka lebar untuk bersemangat membangun negeri dengan segala suka dan duka nya berada disini. Bukan malah mencari ‘comfort zone’ di luar aquarium dan hanya memandang atau bahkan hanya meratapi kehidupan mereka yang berada di dalam aquarium. Rindukah kita terhadap peradaban Islam yang dahulu kala diperjuangkan oleh para pejuang di jalan Allah? Masihkah membekas di benak kita kedamaian itu yang direnggut oleh musuh-musuh Allah? Sadarkah kita bahwa ilmu-ilmu yang banyak ditemukan oleh para penemu Islam di Andalusia kemudian di lalap habis oleh mereka yang mencuri ilmu itu? Kejayaan Islam yang diperjuangkan sang Muhammad Al Fatih, di sebuah negara yang sekarang dipimpin oleh pemimpin yang mempunyai izzah yang tinggi dikarenakan tidak pernah takut apapun kecuali Allah semata. Apakah sejarah sang penakluk Konstatinopel ini tidak membuat kita ingin bangkit dan maju? Apakah kita mengetahui bangsa ini diprediksi akan memimpin dan segera akan menginjak bumi Palestina dan kita akan shalat berjama’ah di Masjidil Aqsa?

Rindukah kita berjalan di trotoar melihat anak-anak pergi ke sekolah memakai seragam merah dan putih, dengan topi yang sangat khas dan dasi yang imut berwarna merah? Rindukah kita dengan corak budaya Indonesia dengan limpahan budaya yang ada di Nusantara yang membuat bangga masyarakatnya bahkan di puji warga negara asing?. Sadarkah bahwa negeri ini membutuhkan kita untuk tetap disini dan berjuang bersama? Dan maukah kita berjuang dengan memainkan peran kita masing-masing yang ahli dalam bidangnya?

Kembalilah.. Betapa pun negeri ini sering mengecewakan hati.. Kembalilah.. Walaupun rupiah masih sulit menyaingi mata uang asing di negara maju.. Kembalilah.. Walau terkadang membuat hidup sedikit ‘stressful’ karena ‘wasting time’ di jalan disebabkan terjebak kemacetan.. Kembalilah.. Karena kita adalah harapan bangsa dan kita harus terlibat dalam mencerdaskan bangsa.. Kembalilah.. Bangun kembali rasa cinta tanah air itu yang telah diperjuangkan para pahlawan kita demi 17 Agustus 1945 menjadi hari kemerdekaan kita.. Kembalilah dan bawalah segudang ilmu yang selama ini diperjuangkan di luar sana demi memajukan bangsa.. Yang terakhir, bersabarlah karena perjalanan ini masih panjang dan penuh dengan lika-liku..

Sebagai penutup, mari kita resapi ayat berikut ini..

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatilah Allah dan rasul-Nya dan jangan kamu berselisih , yang menyebabkan kamu menjadi gentar, dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh Allah bersama orang-orang yang sabar.” {Al-Anfal: 46}

Penulis: Fatmah Ayudhia Amani (Alumni Fotar)
Read more ...

Friday, 18 November 2016

Cukup Terpelajarkah Diri ini?

Sadarkah kita dunia juga merupakan tempat menimba ilmu? | Gambar: bostondotcom
Sering kali kita menganggap diri kita adalah orang yang terpelajar. Tapi apakah kita sudah merasa benar-benar terpelajar untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah dan mempunyai tradisi belajar yang baik?

Sudah umum kita menganggap bahwa menuntut ilmu hanya ketika berada di sekolah ataupun kampus. Sadarkah kita, seperti halnya sekolah, dunia tempat kita hidup juga merupakan tempat menimba ilmu? Ketika sekolah menuntut kita untuk terus belajar lebih baik. Dunia pun seperti itu. Adalah sebuah kekeliruan ketika  kebanyakan dari kita mempersempit makna belajar hanyalah ditunaikan di sekolah.

Ketika kita dilahirkan, sesungguhnya sudah menjadi kewajiban kita untuk belajar sampai ketika kematian menjemput kita. Tentu tujuan belajar adalah untuk menjadikan diri lebih baik dan semakin mendekatkan kita kepada Allah. Di setiap pembelajaran pasti ada ujiannya, dan ujian-ujian itulah yang nantinya akan menguatkan kita.

Contohnya ketika seorang bayi yang baru terlahir dan belum bisa apa-apa, maka bayi tersebut akan memulai proses belajar untuk berbicara, berjalan atau berlari. Atau ketika ujian kenaikan kelas, maka setelah menghadapi ujian tersebut kita akan naik tingkatan. Namun, pertanyaannya adalah, apakah kita belajar untuk ujian atau ujian untuk belajar? Realitanya kebanyakan dari kita belajar hanya ketika ujian akan datang saja. Sudah seharusnya kita menata diri untuk menganggap ujian bukan lagi kesusahan semata. Ujian adalah perayaan. Sambutlah ujian dengan kebahagiaan. Karena ada di setiap ujian ada pembelajaran yang menguatkan kita.

Tentu ujian bukan hanya di sekolah. Bahkan ujian yang lebih pelik malah sering terjadi dalam kehidupan nyata. Itulah sebabnya kita diwajibkan untuk belajar dimana pun itu. Belajarlah untuk lebih baik di belahan dunia mana pun kita berada, dan jadilah manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Sehingga ketika kematian datang, setidaknya kita sudah meninggalkan ilmu yang bermanfaat di dunia, yang akan terus mengalir dan hidup ketika kita meninggal.

Setiap Muslim harus  belajar ilmu agama, sebagai bekal terbaik menjalani kehidupan ini. Namun, banyak yang mempelajari islam malah semakin keruh hatinya, semakin hampa hidupnya serta semakin jauh dari Allah. Bahkan menjadi salah satu yang terdepan dalam memusuhi islam (Nau’dzubillahimindzaliq).

Seorang Muslim harus belajar bagaimana mensyukuri hidup sebagai anugerah terbaik yang Allah berikan dan memaknai hidup ini dengan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat. Bukan hidup sekadar hidup saja namun, mewarnai hidupnya untuk islam. Harus berkorban memberikan yang terbaik untuk islam serta mendayagunakan kemampuan diri yang telah Allah berikan.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu', jiwa yang tidak merasa puas & doa yang tidak didengar [HR. Nasai No.5442].

Sudah sewajarnya seorang Muslim menjadikan profesinya sebagai sarana dakwah. Memberikan manfaat yang banyak kepada orang lain. Sehingga bukan hanya materi yang didapati, tapi juga terkandung manfaat dalam pekerjaanya. Ada kebahagiaan orang lain dalam aktivitasnya. Sudahkah kita?

Penulis : Farid Muhammad
Read more ...
FOTAR IIUM - Sepanjang Jalan Dakwah